Senin, 25 Januari 2016

IPB # 2

         Amanah tidak jatuh pada pundak yang salah.
    Allah tidak selalu memberikan apa yang kita mau, tapi Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan. J

        Aku seorang mahasiswi IPB yang baru saja melewati 1 tahun kehidupan disana yang menurut orang merupakan masa-masa paling indah untuk dijalani, TPB, Tingkat Persiapan Bersama. Alhamdulillah hasil dalam 1 tahun ini, aku bisa mendapat nilai IPK yang hampir mendekati sempurna, dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang setidaknya tidak membuatku sebagai mahasiswi kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang), tapi tidak juga dibilang sebagai aktivis seperti ketika SMA dulu. Selama 1 tahun ini, aku juga merasa terlindungi oleh kehidupan asrama yang pokoknya sangat menjagaku.
        Masuklah aku pada kehidupan kuliah yang sesungguhnya. Aku mulai beradaptasi kembali, beradaptasi tinggal sendiri di kosan, beradaptasi menjalani kehidupan sebagai mahasiswi Fakultas Ekologi Manusia, dan beradaptasi menjalani kehidupan sebagai mahasiswi Departemen Gizi Masyarakat.
        Semester 3 pun kulalui. Betapa aku mengalami kekagetan. Sejak masuk departemen aku memberanikan diri untuk mencoba bergabung dengan kegiatan-kegiatan baik di tingkat departemen dan fakultas. Aku mengikuti kepanitiaan di departemen yaitu Food Fair dan Farewell Party HIMAGIZI. Lalu aku bergabung dalam kepanitiaan PEMIRA FEMA. Ternyata benar, kehidupan di departemen tak seindah TPB. Aku mulai menyesuaikan diri dengan berbagai tugas laporan, kuliah, dan praktikum yang menantang.
        Aku mengalami masalah. Aku merasa memiliki pola belajar yang salah. Di kosan, diriku lebih rentan, tak seperti ketika di asrama. Bukan karena di kosan aku jadi seperti bebas melakukan apa saja. Tapi yang menjadi masalah adalah kesendirian dan kesepian yang membuatku rentan menjadi malas dan galau. Semangat belajarku menjadi naik turun. Aku jadi lebih sering menunda. Sungguh aku rindu kehidupan sekamar berempat ketika di asrama. Sungguh aku rindu kehidupanku ketika di rumah, dimana aku bisa mendengar suara-suara berisik dari orang-orang serumah. Suasana yang ramai dan hidup merupakan motivasiku untuk bisa bertahan dan menyelesaikan segala hal. Pada akhirnya apabila aku sudah merasakan berbagai ketidakberesan, aku cenderung menenangkan diri dengan tidur. Hal itu sebenarnya sangat tidak baik, karena itu berarti aku menunda segala hal yang membuatku kelimpungan di akhir.
        Aku tahu aku salah. Aku tahu aku sedikit melupakan tujuanku kuliah. Aku tahu aku sering mengesampingkan cita-citaku di masa depan. Hingga akhirnya aku berusaha keras untuk berubah. Selalu memikirkan orangtua, dan memikirkan kehidupan masa depan yang kucita-citakan. Tapi tetap semuanya telah berjalan. Seperti yang sudah kubilang. Ketika aku menunda, maka aku akan kelimpungan di akhir. Bersenang-senang di awal, bersakit-sakit di akhir. Seperti itulah gambaran kehidupanku di semester 3.
        PEMIRA FEMA. Dari situlah semua berawal. Kepanitiaan ini berhasil mengasah kembali skillku dalam berorganisasi. Aku merasa nyaman disini. Aku merasa nyaman dengan teman-teman dan kakak-kakak yang bergabung dalam kepanitiaan ini. Di PEMIRA ini aku benar-benar merasakan yang namanya ditunjuk dan dipercayakan secara langsung untuk melakukan sesuatu, sesuatu yang jarang aku lakukan sehingga membuatku deg-degan, dan sesuatu yang benar-benar menguji keikhlasanku dan seberapa siapkah aku untuk berkorban.
        Mungkin aku mau sedikit memperkenalkan sebuah mata kuliahku di semester ini, yaitu fisman (fisiologi manusia). Mata kuliah yang menarik, tapi praktikumnya benar-benar menguji mental seseorang haha. Mau atau tidak kamu harus bertahan untuk mempelajari aplikasi IP WEB yang mengupas lengkap mata kuliah ini dan berisi FULL BAHASA INGGRIS. Mempelajari IP WEB ini menurutku membutuhkan waktu khusus karena tidak mudah. Bahkan aku sendiri, dengan kelemahan yang kumiliki, aku sadar diri, dan aku harus menulis seluruh isi IP WEB itu dulu sebelum kupelajari. Nah again. Intinya aku baru sadar di pertengahan jalan. Aku tidak benar-benar belajar IP WEB ini dengan sepenuh hati dari awal. -,-
        Hari H PEMIRA. Aku dan seorang kakak yang berbeda 2 tahun (yang dia ternyata kakak asprak fisman ._.) ditunjuk  sebagai perwakilan dari panitia PEMIRA FEMA untuk melakukan perhitungan suara di KM  (tingkat IPB). Guess what! Perhitungan suara itu dilakukan diatas jam 9 malam, kemungkinan berakhir lewat tengah malam, dan besoknya adalah ujian presentasi IP WEB fisman 3 atau 4 bab! Pelajaran yang cukup kutakuti ini benar-benar menguji mentalku banget. Di saat anak-anak gizi lainnya belajar, aku melakukan hal lain. Aku khawatir karena nilai-nilai praktikum fismanku tidak terlalu bagus, dan aku gak mau besok aku mendapatkan kembali hasil yang tidak memuaskan. Mana aku tidak terlalu mengerti bagian-bagian bab awal T_T.
        Bagaimanapun aku tak bisa menyia-nyiakan amanah yang datang padaku. Yasudah aku jalani saja dengan tenang. Dan benar, sekitar jam setengah 1 an dini hari aku baru balik ke kosan. Apakah aku langsung belajar? TIDAK! Aku capek dan aku tidur! Alhamdulillah aku terbangun jam 3an. :”””). Hingga akhirnya ujian presentasi dilaksanakan. Alhamdulillahnya lancar. Aku dapat bagian yang harus dipresentasikan yaitu bagian yang cukup kukuasai. Sungguh aku bersyukur banget.
        Yah. PEMIRA inilah yang kemudian mengarahkanku pada jalanku yang selanjutnya. Aku mendaftar magang BEM, namun ditolak. Aku pun dilanda kebingungan untuk memilih daftar DPM atau HIMAGIZI. Jujur aku tidak pernah kepikiran untuk bergabung dengan DPM yang mirip dengan MPK ketika SMA dulu. Aku merasa cukup 2 tahun sebagai MPK, dan tidak mau melanjutkan di DPM. Namun, kembali aku dipercayakan oleh seseorang yang kukenal baik dan hebat di kepanitiaan PEMIRA untuk bergabung di DPM. Bimbang. Aku menimbang-nimbang dengan sebaik-baiknya. Entah kenapa pula, aku merasa ditunjukkan jalan oleh Allah, melalui beberapa teman TPB yang berhubungan dengan DPM tiba-tiba bertemu secara kebetulan denganku.
        Bismillah, akhirnya kutetapkan pilihanku. Aku daftar DPM. Itu artinya aku siap untuk menghapus keinginanku untuk bergabung dengan BEM, HIMAGIZI, dan berbagai kepanitiaan yang dibawahi oleh BEM dan HIMAGIZI. Serangkaian persyaratan kupenuhi. Wawancara kujalani. Alhamdulillah aku pun diterima sebagai bagian dari DPM FEMA (Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia).
        Perkenalkan inilah dia Dewan Ekosentris, DPM FEMA periode 2015/2016. Disini aku mendapat amanah sebagai bagian dari BPH (Badan Pengurus Harian), yaitu sebagai bendahara II. Jujur aku tidak pernah kepikiran bisa tergabung sebagai BPH. Aku tahu, di BPH itu tidak mudah. Selain menjalankan kewajibannya, BPH itu memiliki tugas lain, merangkul dan menjaga seluruh pengurus. J
        Mendekati masa-masa UAS dan setelah berakhirnya UAS Dewan Ekosentris mulai diuji, terutama BPH. Berkutat dengan yang namanya memeriksa RKAT dari seluruh organisasi FEMA. Dan itu dilakukan berulang-ulang setelah mengalami revisi dan revisi lagi. Kemudian persiapan untuk muker (musyawarah kerja) internal FEMA yang harus dilakukan di tengah-tengah masa UAS karena muker dilaksanakan setelah tepat setelah UAS. Cukup berat menurutku. Dengan sumberdaya DPM yang hanya 18 orang, koordinasi yang belum terbentuk dengan sempurna, dan prinsip orang yang berbeda. Aku pribadi, aku memegang prinsip dari dulu hingga sekarang, bahwa UAS adalah saat dimana aku bisa mengejar ketertinggalan nilaiku, jadi aku akan fokus dan cenderung tidak mau diganggu. Tapi akhirnya, mulai saat inilah prinsipku pun luntur seketika. Mau tak mau fokusku harus terbelah.
        Muker internal selesai, masa liburan tiba, namun muker IPB menunggu. Muker IPB memang dilaksanakan pada saat liburan, seminggu setelah berlangsungnya muker internal, dan hanya membutuhkan BPH. Seminggu ini tidak tenang. Aku dan temanku sebagai sekretaris II ditinggal pulang oleh sekretaris I dan bendahara I. Dan aku dan temanku berdua berusaha keras belajar dari awal dalam menyelesaikan urusan proposal dan lpj muker internal. Koordinasi dengan kakak-kakak harus berlangsung jarak jauh. Belum lagi urusan RKAT yang akhirnya dipegang penuh oleh kakak ketua DPM sendiri (Maaf ka tidak bisa banyak bantu T_T). Memang kebetulan yang bagus, aku dan temanku sebagai anak jabodetabek. Tapi sayangnya, ternyata kita tidak bisa bolak-balik Bogor-rumah, karena urusan ini tidak semudah yang dilihat untuk diselesaikan.
        Aku pribadi merasa ingin menangis tapi kupendam. Kenapa? Karena aku tidak bisa segera melakukan tanggung jawab di rumah. Tanggung jawab sebagai anak bungsu, sebagai anak perempuan satu-satunya, sebagai anak yang kuliah tidak jauh dari tempat tinggalnya. Apa yang kita mau memang tidak selamanya sesuai dengan kenyataan. Mungkin kedepannya aku harus benar-benar siap dengan segala sesuatu yang datang mendadak dan harus segera untuk diselesaikan. Aku harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Aku harus tegas. Aku tidak boleh malas. Aku harus lebih inisiatif. Aku tidak boleh menjadi seorang yang pelupa. Aku tidak boleh terjebak dengan mengikuti apapun yang dilakukan teman, walaupun itu teman dekat.

        Karena amanah datang secara tiba-tiba...
        Karena amanah datang di kala kita tidak siap...

        Aku berharap 18 orang DPM bisa benar-benar menjadi keluarga. Keluarga yang nyaman. Keluarga yang terbuka. Keluarga yang benar-benar mengerti kepribadian anggotanya satu sama lain. Keluarga yang anggotanya saling menghargai dan mendukung satu sama lain. Keluarga yang dapat membagi kesenangan dan kesusahannya secara merata.
       
        Kalau kalian anggap tidak ada yang penting pada suatu waktu, sehingga kalian tidak akan datang, justru itulah waktu yang sangat penting untuk kita berkumpul.

        Karena setiap dari kalian itu begitu berharga.

        Dewan Ekosentris tak akan berjalan tanpa kalian ber-18.




        

Sabtu, 07 Februari 2015

Mudik?

Haloooo ^_^

Setelah beberapa bulan lamanya akhirnya aku mau mulai nulis lagi nih. Ya sekarang aku lagi menikmati sisa liburan semesteranku yang kurang lebih tinggal 1/10 hari dari jumlah awal, yaitu sebulan lamanya. Ya, akhirnya aku merasakan yang namanya liburan nan panjang setelah melewati semester 1 di kampusku tercinta, IPB. Gimana IPK perdana?? Hmm..Alhamdulillaah.. Yaa harus kuakui kalau aku masih merasa belum menghadapi “the real” pelajaran kuliah, karena selama 6 bulan ke belakang dan 6 bulan ke depan aku masih mempelajari mata kuliah yang sama dengan pelajaran pas SMA, tapi lebih mendalam. Dan itu artinya, perjuangan yang sebenarnya adalah nanti mulai di Semester 3, saat dimana aku mulai merasakan apa itu yang namanya Departemen Ilmu Gizi, yang katanya sih tiap harinya bakalan berkutat dengan yang namanya laporan........ *OkeSkip*

Ya, liburan kali ini ada yang spesial banget niiih. Akhirnya aku merasakan yang namanya MUDIK BARENG KELUARGA. Yeaaaay :D Sekian lamanya ku menunggu saat-saat ini, dari SD, ke SMP, ke SMA, dan ternyata hal ini terwujud di tahun pertamaku KULIAH. Destinasi mudik perdana ini adalah ke JAWA TENGAH, ke kampung halaman bapakku. Hmm, kalau dibilang ini sebenarnya bukan mudik perdanaku, tapi tetap aja bagiku ini tuh perdana! Kalau kata orangtuaku, dulu waktu aku kecil, sering kok dibawa pulang ke Jawa. Kapan pula itu ya? Aku mana inget atuuuuh... Kayaknya pas itu aku TK aja beloman deh -___- .


Yaak yuuk kita mulai ceritanya, ini dia huru-hara perjalanan panjang pertama bareng keluarga, yaitu ibu, bapak, dan kakak keduaku, Mas Yogi. Oiya sebelum dimulai ceritanya, mau ceritain sedikit awal mula ditetapkannya perjalanan mudik ini. Singkat kok, bapakku sudah pensiun, aku lagi liburan semester, kakakku lagi liburan juga, ibuku oke-oke aja, dan ini nggak bertepatan dengan arus mudik. Yak berangkatlah kita. Mumpung ada kesempatan dan ada kendaraan pribadi juga, hehe. Nah mudik ini juga bukan mudik biasa, yang langsung menuju ke satu daerah yang dituju dan menetap, tapi ini mudik 6 hari 5 malam yang nomaden, melewati tiap-tiap malamnya di daerah yang berbeda-beda, dan juga ditambah sekalian rekreasi ke berbagai tempat di daerah Jawa Tengah nantinya ^_^.


Rabu, 21 Januari 2015
Perjalanan dimulai pada pukul 9 pagi. Barang- barang  dan perbekalan semuanya udah dimasukkin ke dalam mobil. Bismillaah, jalan deeeh. Perjalanan kita melalui jalur Pantura. Ya, Alhamdulillaah, perjalanan dimulai dengan lancar tanpa menemui hambatan yang berarti (baca: kemacetan), hehe. 


Nah sekitar jam 12-an, perjalanan kita sampai di Kota Indramayu. Waktunya untuk ishoma. Kita pun memilih berhenti di sebuah restoran yang iklannya udah terpajang di pinggir jalan dari berkilo-kilo meter jauh sebelumnya, wkwkwk, dialah yang namanya Restoran Pringsewu. Mungkin kalian yang sering pulang kampung udah gak asing lagi sama nama ini ya? Hahaha :D


Ya, disini kita istirahat, sholat, dan makan. Nah ada kejadian yang menarik nih disini. Jadi pihak Pringsewu itu punya promo, bagi yang lagi ulangtahun bakalan dapet kejutan spesial dari mereka. Nah ibuku spontan aja nyeplos kalau si bapak ulang tahun, tapi tanggal 23. Dari awalnya cuman bercanda, ternyata jadi riang gembira. Wkwkwk.. Tiba-tiba bapakku dapat ucapan selamat dari mbak-mbak dan mas-mas restonya diiringi lagu ‘Happy Birthday’ yang dimainin pakai angklung, dan alat perkusi. Terus ditambah lagi dapat hadiah satu gelas minuman spesial dari mereka. Widiiiiihh :DD Aku bengong. Keren juga nih resto, wkwkwk. Dan permainan angklung dan perkusinya itu emang bagus jugaaa, sekilas jadi keinget sama rampak kendang pas zaman SMA dulu, hehe. Weits, itu belum berakhir. Pas udah selesai dan mau melanjutkan perjalanan, kita sekeluarga dicegat, terus diajakkin foto bareng, terus fotonya langsung dicetak gratis disitu. Wahahaha, bisa aja niiih. Arigatou gozaimasu, Pringsewu, udah memberi kesan pertama indah buat kita.




Dapet hadiah kartu. Kiri : Wajah saat dateng ke Pringsewu (cemberut)
Kanan : Wajah setelah makan di Pringsewu (senyum)

Perjalanan dilanjutkaan, mulai keluar jalur pantura, memasuki wilayah Jawa Tengah, dan melaju terus ke arah selatan. Jam setengah 7 sampailah kita di Purwokerto. Malam pertama kita dilewati disitu. Oiya mudik kita ini emang nggak punya tujuan khusus yang bakal dijadiin buat tempat nginap dan nggak pakai perjalanan malam, jadi di mana malam itu tiba, disitulah kita akan mencari tempat penginapan dan menginap untuk sementara. 

 Penginapan Pertama, Hotel Mulia, Purwokerto


Kamis, 22 Januari 2015
Habis sarapan, jam 7 perjalanan dimulai kembali, menuju ke arah Timur Laut, melewati Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, dan jam 10-an sampailah di Dataran Tinggi DIENG. Hari ini kita bakal rekreasi disini , yeaaaaay :D.

Salah satu objek wisata di Dieng, Telaga Warna
Kita bisa melihat keindahan Danau yang memiliki warna 
permukaan air yang berbeda-beda

Foto duluu~


 Objek wisata lainnya di Dieng "Dieng Plateau Theater"
Disini ada ruangan yang seperti bioskop untuk menonton 
video seputar Dieng yang berdurasi sekitar 20 menitan 

Foto panorama dari Dieng Plateau Theater :)
Diambil sebelum masuk ke dalam ruangan buat nonton.

Sehabis nonton, kita istirahat-istirahat dulu di warung sebelah gedungnya sambil makan kentang goreng dan jamur crispy :D Dan mendadak cuaca jadi sangat berkabut, bahkan pemandangan diatas menjadi sama sekali tak bisa dilihat! Hanya butuh 20 menitan untuk berubah cuaca dengan drastis,ckckck.



Ini dia Kompleks Candi Arjuna yang selanjutnya kita datangi.
Ini foto penampakan Candi yang "seharusnya" kita lihat


Tapi kenyataannya beginilah keadaan sebenarnya penampakan Candi saat kita datangi
Candi-candi benar-benar tak terlihat dihalangi kabut yang sangat tebal!!

Iseng ngambil foto kedua orangtuaku dari belakang :3

 
Foto bak model *Weits

Aku dan ibu foto di depan pohon bunga terompet

Selesai melihat 'bayangan' candi-candi *wkwkwk* , kita pun keluar, dan makan siang di warung yang terletak di sebelah dekat pintu masuk ke candinya.

 Ini nih makanan yang kita santap , Mie Ongklok, mie rebus khas Wonosobo.
Isinya ada mie, sayuran, yang disajikan dengan kuah kental kacang. 
Lalu ada makanan pendampingnya, yaitu sate :3

Nah minumannya aku nyobain Jus Carica. Ini nih bentuk buah Carica.
Buah Carica ini bentuknya seperti pepaya dengan ukuran kecil.
Buah Carica ini katanya hanya tumbuh di Dieng loh!


Yap, sebenarnya pengen sih ngunjungin seluruh tempat rekreasinya Dieng, tapi gak bisa karena waktunya terbatas, dan masih ada destinasi selanjutnya yang mau dituju. Yah, semoga di lain waktu ada lagi kesempatan kesini yaa, mungkin bareng seseorang suatu hari nanti *eh*.

Akhirnya, setelah selesai istirahat, makan, dan sholat, sekitar pukul 2 siang kita pun jalan lagi. Sekarang menuju ke arah tenggara, melewati Kretek, Kepil, dan sampailah di Purworejo pada pukul 5 sore. Udah mau malam nih, saatnya mencari tempat penginapan sementara yang kedua. Setelah dapat, kita pun istirahat. Nah malamnya kita keluar, silaturrahmi ke rumah Bude Sri, kakaknya Bapak. Mengenal saudara, mengenal sepupu , dan mengenal percakapan bahasa Jawa (?).

 Penginapan Kedua, Hotel Suronegaran, Purworejo



Jum’at, 23 Januari 2015
Sarapan dan berangkat lagi pada pukul 07.40 menuju Yogyakarta. Jam 9an mampir di Toko oleh-oleh “Kencana”, beli macem-macem makanan khas daerah Jawa Tengah, hehe. Nah, abis selesai ngeborong, lanjut deh jalan ke destinasi selanjutnya. Di tengah jalan, ketemu plang jalan arah ke UGM, yak berhubung masih ada waktu, mampir dulu deh ke UGM. Jalanan menuju UGM bisa dibilang cukup lebar, ramai, tidak macet (mungkin karena masih liburan). Lalu beberapa fakultas mulai terlihat berderet di kanan kiri jalan. Terus masuk ngelilingin wilayah kampus di bagian dalamnya, beberapa menit kemudian keluar deh, wkwk..Ya setidaknya taulah sedikit penampakan UGM itu kayak apa, haha. Aku pun mulai membandingkan sama IPB.. Hmm, ya begitulah (gak perlu cerita lah, hehe). Lanjuuut..

Perjalanan menuju terus ke arah timur laut. Pukul 12 kurang sampailah kita di Klaten, tempat kelahirannya Bapakku. Kita langsung menuju ke tempat pemakamannya almarhum dan almarhumah orangtuanya Bapakku, sejenak mengirimkan do’a untuk mereka. Hanya sebentar, setelah itu kita langsung menuju ke rumah Paklek Junet, adiknya Bapak, yang tak jauh dari tempat pemakaman. Tepat pukul 12 siang, adzan pun berkumandang, dan para laki-laki bersiap-siap ke masjid buat sholat Jum’at. 

Sambil menunggu selesai Jum’atan, aku sama ibu ngobrol-ngobrol sama Bule, anak-anaknya, dan lainnya. Ya, aku mengenal sepupu lagi. Ada Mbak Ulfa, lalu Hafidz dan Fauziah yang masih kecil-kecil. Setelah itu aku dan ibu sekalian sholat juga disitu. Ada kejadian mengagetkan! Pas wudhu aku kan ngelepas kacamata, nah ntar kacamatanya baru kupake lagi pas udah selesai sholat. Nah pas lagi mau ngambil mukena yang ada di gantungan buat sholat, sekilas aku ngeliat ada makhluk kecil bersayap merayap-merayap di bagian kepalanya mukena. Nah, karena kalau gak pake kacamata penglihatanku jadi samar-samar gitu, ya aku mikirnya itu tuh kupu-kupu. Aku santai aja sambil ngambil mukena yang lain. Nah, tiba-tiba pas aku deketin, akhirnya aku pun sadar kalau itu tuh bukan kupu-kupu, tapi kecoak. Wah, sontak kagetlah akuuu! Untungnya gak teriak, sadar kalau itu tuh lagi ada di rumah orang. Terus tuh makhluk mulai ngerembet ke sajadahku. Si ibu disampingku tenang-tenang aja mau mulai sholatnya. Ya aku yang gak tenang, ntar kalau tiba-tiba kecoaknya terbang ke kepalaku kumahaaaa?!?!!! Mau ngebuang kecoaknya, tapi udah keburu merinding, soalnya aku udah pernah ngalamin kejadian gak enak sama makhluk yang satu itu. Akhirnya ibuku yang ngambil sajadahnya dan ngebuangnya keluar. Ya, sebelum sholat, aku pastiin lagi dulu kalau tu kecoak gak bakal dateng lagi ke tempatku sholat, wkwkwk.

Sholat selesai, dan para lelaki pun udah balik dari masjid. Kita ngobrol-ngobrol lagi. Nah sekitar jam 1an, kita pun pamit karena mau pergi lagi ke rumah saudara yang lainnya. Nah berhubung udah siang, kita pun singgah dulu buat makan siang di Rumah Makan Bu Mayar Cawas, yang terkenal dengan NASI TRANCAMnya. Aku gak ngerti kenapa dinamain trancam, padahal makanannya sama sekali gak terancam punah ataupun terancam membahayakan kesehatan (?). Disini aku pesen nasi trancam lele bakar. Jadi nasi trancam itu terdiri atas nasi plus aneka sayuran kecil-kecil yang disantap pake bumbu kelapa mirip seperti urap. Nah yang bikin aku bengong tuh lelenya. Aku pesen 1 porsi, tapi taunya dikasih 2 lele!! Mana lumayan gede pula! Kukira ini tuh lelenya kelebihan 1 nyasar di pesananku, taunya nggak. Wualah jadilah langsung ngelahap 2 lele dalam sekali makan, perutku langsung dah penuh sama lele, wkwkwk.. :D

Selesai makan, lanjut jalaaan. Tak perlu waktu yang lama, sampailah di rumahnya Bude Siti, kakaknya Bapak juga. Ketemu sepupu lagi dan anak-anaknya juga. Nah disini aku baru tau ternyata aku punya sepupu seorang dokter, namanya Mas Khoiri. Beliau buka praktek di rumah Bude. Mas Khoiri punya anak perempuan dan laki-laki. Yang laki-laki tuh masih balita, tapi bisa diajak ngomong pake bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, soalnya emang sengaja diajarin 2 bahasa gitu, jadi supaya bisa nyambung kalau ngobrol sama saudara-saudaranya. Wuiihh 

Nah di rumah bude ini tiba-tiba disodorin hidangan berat ! Jengjeeeeng... mie ayam full 1 mangkok cuyy! Langsunglah bengong kita berempat, wahaha. Wong tadi baru aja makan, mana aku makan 2 lele pula! Yasudahlah karena gak enak udah disiapin, tetep aja tuh disantap. Nah aku sama ibu makan 1 mangkok berdua. Gak kuat nih perut kalau disuruh ngabisin 1 mangkok, itu aja setengah mangkok lama banget ngabisin makanannya, hahaha.

Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Kita pun pamit, melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnyaa. 2 jam perjalanan, melewati Solo, Karanganyar, pada pukul 7 malam sampailah di Tawangmangu. Jalanan mulai menanjak. Dan kita pun mulai memilih tempat penginapan sementara ketiga. Setelah itu kita makan malam deh di warung makan yang ada di deket situ, namanya RM Yogya. Aku pesen capcay kuah dan susu panas. Hmm susunya enaaak :3 Hehehe. Abis makan balik ke penginapan dan istirahaat. Prepare for happy time tomorrrow!!! :D Woiyaaa, hari ini bapakku ultah, tapi kita biasa ajaa, kan hebohnya udah 2 hari yang lalu, wehehehe..

 Penginapan Ketiga, Hotel Bintang, Tawangmangu



Sabtu, 24 Januari 2015
Seperti biasa sebelum jalan sarapan duluu ^_^. Jam setengah 8 cuus. Saatnya berekreasi kembalii. Jalan-jalan dimulai ke puncak Cemorosewu, terus turun menuju ke Sarangan, tepatnya ke Talaga Sarangan. Oiya, puncak Cemorosewu itu merupakan kawasan perbatasannya Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur loooh. Jadi pas di Sarangan itu kita udah berada di Jawa Timur, hehe. Berhubung Talaga Sarangan bukan tujuan rekreasi utama yang didatangi, jadi disini cuman numpang foto doang. Aku jadi ingat 3 tahun yang lalu kesini bareng SMANSA 35, naik speedboat, dan nyobain nunggangin kuda for the first time :””) Dan yang paling kuingat adalah waktu dulu kesini aku lagi demam! Jadi sambil senang-senang , muka rada pucat, dan badan panas plus sedikit lemas :”(



Di tugu yang ada di Talaga Sarangan.
 Kayaknya seingatku 3 tahun yang lalu tugu ini belum ada deh ._.

Setelah itu balik lagi ke Jawa Tengah deh, hehe. Tujuan utama rekreasi hari ini adalah Grojogan Sewu di Tawangmangu ^_^ yihaaa~~. Jadi disini kita disuguhi pemandangan air terjun yang indah. Suhu udara disini sedang-sedang aja, gak seperti suhu di puncak yang cukup dingin. Jalanan menuju kesini juga aspalnya bagus dan jalanannya gak ekstrim kok. Nah dari pintu masuk menuju ke air terjunnya, kita bakal menuruni ratusan anak tangga (atau ribuan yak? ._.). Turunnya mah enjoy-enjoy aja, nah naiknya..........yah cukup membakar kalori tubuh agaknya (?). Yang seru adalah selama naik turun tangga, kita ketemu sama sekumpulan monyet-monyet lucu, yang lagi main, guling-guling, gelantungan, bahkan nyari kutu *wekeke. Kalau kata ibuku, waspadalah! Barang-barang di sekitarmu, yang kamu pake, yang kamu pegang, bisa jadi inceran makhluk kecil tersebut! Entah itu topi, hape, gantungan tas, bahkan kacamata yang lagi dipake -_______- Kok serem yak.. Yah ibuku cuman cerita pengalamannya sendiri yang sendalnya pernah dibawa kabur sih. Tapi jangan sampe kacamataku dibawa kabur ajaaa. Gawat itu!! Yah well, gausah terlalu parno dah. Monyet juga makhluk biasa. Mungkin mereka baru bakalan iseng kalau mereka kelaparan......






Menikmati percikan air terjun Grojogan Sewu dari jembatan~


Yaaap puas maen air, foto-foto, dan nanjak naik tangga *fyuh*, saatnya jalan kembali. Waktu masih menunjukkan pukul 12 siang. Kita pun singgah ke Astana Giribangun yang lokasinya tak jauh dari Grojogan Sewu. Disana kita melihat makamnya Almarhum Pak Suharto, Presiden RI yang kedua, almarhumah istrinya, dan lainnya. Sejenak mengenang dan mengirim do’a untuk mereka. Setelah itu kita pun menunaikan sholat.




 Astana Giribangun

Pukul 1 siang. Sholat usai, jalan kembali. Destinasi selanjutnya adalah Wonogiri. Saat di Wonogiri, kita mampir makan siang di sebuah warung makan. Selesai makan, langsung jalan menuju rumahnya Bude Tuti. Hmm, Bude Tuti ini bapaknya sepupuan sama almarhumah ibunya bapakku. Bingung ya? Ya begitulah pokoknya. Bude Tuti ini seorang guru, sama seperti Bude Sri dan Bude Siti. Terus suaminya seorang kepala sekolah di sebuah SMK disana. Ada yang perlu diperhatikan dari hubungan Bude Tuti sama suaminya. Jadi Bude tuh agamanya nonislam sedangkan suaminya islam. Ya dari situ aku belajar untuk memahami kehidupannya Bude. Ketika ngobrol sama Bude dan keluarganya, aku merasakan adanya toleransi agama yang kuat dalam keluarga mereka. Tapi ya tetap, hukumya haram untuk seorang muslim menikah dengan seseorang yang beda agama.

Setelah sekian lama ngobrol, kita pun diajak untuk mampir melihat waduk Gajah Mungkur. Kita jalan, mengikuti mobil bude dari belakang. Nah, di tengah jalan, kita mampir liat-liat sekolahannya suaminya Bude, yang berhasil membuatku terpukau! Sekolahnya tuh SMK Negeri 2 Wonogiri (kalau gak salah ingat ya ._.), sekolahnya luas banget dan bagus. Itu sekolah kayaknya udah bisa dibikin jadi kampus deh kayaknya. Wkwk. Oiya ngomongin sekolahan, selama perjalanan beberapa hari kebelakang, melewati berbagai daerah, dan tentunya melewati berbagai sekolahan, aku sering tercengang sendiri. Sebagian besar dari sekolahan tersebut tuh luas-luas, bangunnya didesain dan dicat sedemikian rupa bagusnya. TK aja bagus kok. Aku langsung bandingin sama sekolahan di Depok. Hmmm.. masih kayaknya (kayaknya ya) bagusan sekolah-sekolahan yang kuliat di daerah. Indah diliat mata aja gitu, hehe. Abis itu seru bisa langsung maen ke sawah..~~ lalalala.. 

Balik lagi. Dari SMK, cus jalan lagi. Ibuku iseng nyeplos “jangan-jangan ntar kita dibawa makan lagi.......” waduuuh, masa iya terjadi lagi?!? Eh bener ternyata dugaan ibuku! Kita malah dibawa ke sebuah rumah makan yang berlatarbelakang pemandangan waduknyaa! Weitsss.. Perutnya diiisi lagi nih?? -,-“ Yap begitulah. Kita udah keburu dipesenin sop ikan nila sama bude.. duh budee :””” . Ya untungnya ikan, bukan makanan yang mengandung karbohidrat, perutku masih cukup kuat lah buat diisi ikan~ Ternyata sopnya enak juga, hehe. Sambil ngeliat pemandangan waduk, dan diceritain sedikit tentang kehidupan penduduk sekitar yang sejahtera dengan adanya waduk ini. 

Pukul setengah 6 sore, kita pun berpisah sama Bude dan anaknya, kembali melanjutkan perjalanan. Selanjutnya kamana?? Yap, Solo! Solo ini tujuan utama kedua selain Klaten. Kita nyampe Solo sekitar pukul 8an. Langsung kita menuju tempat penginapan sementara untuk yang terakhir kalinyaa, uuuuu (penginapan terakhir gausah ditampilin yak, hehe). Abis itu kita nyari makan di daerah Gladak namanya. Yak, sedikit nyobain salah satu makanan khas Solo, tengkleng!

 Tempat makan di Gladak, Solo


Tengkleng, ternyata isinya tulang kambing -,-


Di tempat penginapan, gak bisa langsung istirahat. Ngeringin plus nyetrikain rok hitamku yang basah dan sedikit kotor (-,-“) buat dipakai besok. Hehe.. Kenapa dipake lagi?? Yah intinya ketika liburan panjang tiba, lebih bijaklah dalam memilih pakaian yang dibawa pulang ke rumah dari tempat perantauan!! (Udah kebayang belom alasan kenapa dipake lagi roknya? Hahahaha)

Minggu, 25 Januari 2015
Sarapan terakhir, yang paling beda dari sebelumnya. Sebelumnya pasti sarapannya nasi goreng atau mie goreng, kali ini ketemu bubur ayam~ hehe. Nah, hari ini perjalanan akan diakhiri di Gedung Sasana Krida Kusuma, Solo, untuk menghadiri undangan pernikahan anaknya teman satu SMA bapakku. Yah ini juga menjadi alasan berjalannya mudik ini kayaknya. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui! Silaturrahmi, rekreasi, dan menghadiri undangan. Hehehe.

Di kondangan, lumayan bisa nyicipin makanan khas Solo lainnya, ada Garang Asem dan Selat Solo, hehe :D
 Garang Asem dalam bambu, isinya daging ayam ._.

 Selat Solo, ada sayuran dan dagingnya


Woiyaa ada kejadian lucu nih disini. Sebelumnya pas nyampe di depan gedung, kita disuruh berhenti dan diajak foto berkeluarga sama mbak-mbak. Nah pas keluar gedung, tuh foto barusan udah dicetak dan ditawarin sama mbak-mbaknya buat dibelii! Mending fotonya bagus, nggak cuy -___- Fotonya gelap gitu deh. Eh sama Bapak malah dibeli tuh foto yang berukuran segede buku gambar A3! 2 Foto pula, model landscape dan portrait! Aku mah yaudahlah. Nah si ibu yang merengut-rengut gitu, gak setuju sama tindakan si Bapak, wkwkwk.. 

Selesai kondangan balik ke tempat penginapan. Sholat dan siap-siap buat balik. Balik? Iya , balik. Huhuhu, perjalanan akan segera berakhir :”(

Pukul 1 siang, perjalanan pulang dimulai. Hmm..mumpung masih di Solo, kita nyempetin sebentar mampir beli serabi solo. Woiyaaa, bagi seseorang yang merasa sempet mesen serabinya, maafkan aku gak bisa beliin. Soalnya kondisi pas belinya lagi buru-buru gitu, dan aku gak enak minta beliin lebih buat pesanan dirimu. 

Jadi perjalanan pulang ini awalnya direncanain sebisa mungkin bisa sampai di Depok maksimal tengah malamlah. Perjalanan kembali melalui jalur Pantura, melewati Semarang, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, dst. Nah sekitar pukul 8 malam, kita baru sampai di Tegal. Kita berhenti istirahat di warung makan sate. Abis itu kembali melanjutkan perjalanan. Akhirnya kita pun memutuskan untuk melakukan perjalanan malam. Sepanjang malam, bertemu dengan truk-truk besar. Yang ada di pikiranku, wuih sopir truk-truk ini hebat-hebat banget yah :”) . Hehe

Senin, 26 Januari 2015
Alhamdulillaah sampai juga di rumah, beberapa menit sebelum adzan Subuh berkumandang.  

Yah perjalanan beberapa hari kebelakang benar-benar jadi pengalaman menyenangkan tak terlupakan, karena belum tentu perjalanan ini bisa terulang lagi di waktu yang akan datang :”” Ya, tentunya di setiap kejadian pasti ada hikmah yang bisa diambil kan. Aku banyak banget belajar dan merenung dari mudik bareng keluarga ini. 

Pertama, akhirnya aku (sedikit) melek sama daerah-daerah di Jawa Tengah. Aku jadi sedikit kenal mana yang bagian utara,  tengah, dan selatannya Jawa Tengah. Yah setidaknya aku bisa bedain lah mana yang Jawa Tengah, mana yang Jawa Timur, tapi aku masih bingung bedain mana yang kota, kabupaten, atau bahkan kecamatan ._. 

Kedua, belajar sejarah, kebudayaan, dan pertanian. Mulai dari melewati Jalan Anyer-Panarukan, disitu aku merenung memikirkan seberapa banyak korban yang berjatuhan akibat kerja paksa dalam menyelesaikan jalan ini. Kemudian setiap di tempat wisata, pasti diceritain kisah-kisah tentang tempat tersebut sekaligus melihat perilaku masyarakatnya. Selain itu, aku juga belajar mengenal tanaman! Hehe.. Soalnya, selama perjalanan, pasti banyak melewati sawah dan kebun. Aku yang dari kecil emang besar di kota, merasa asing sama berbagai pemandangan tanaman perkebunan yang terlihat.

Ketiga, aku jadi banyak bersyukur dengan melihat keindahan alam dan merasakan banyaknya kenikmatan tak terhingga dalam kehidupan yang kujalani ini. Aku sempet merenung juga, dengan sebegitu luasnya lahan pertanian di Indonesia, dengan sebegitu melimpahnya SDM dan SDA kita, apa iya benar, tak mampu menyediakan kebutuhan pangan seluruh rakyat Indonesia?? Mengapa Indonesia masih mengimpor produk pangan sehari-hari seperti beras? Kedelai? Bawang? Gula? Garam? Sayur-sayuran? Buah-Buahan? Bahkan daging sapi juga? Aku juga merenung, mengapa banyak orang-orang lebih memilih mencari pekerjaan di kota? Padahal kurasa lahan pekerjaan di daerah memiliki potensi cemerlang kok, ditambah gak harus ketemu sama kemacetan pula. Apakah Indonesia benar-benar masih kekurangan tenaga ahli di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan, peternakan, dan lainnya?? Yah, bagaimanapun setelah lulus dari kampus pertanian, aku harus bisa menemukan dan membuktikan sendiri jawaban-jawaban atas persoalan diatas, dan semoga nantinya aku bisa berkontribusi sedikit demi sedikit mengatasi permasalahan tersebut ya!!

Keempat, belajar bahasa Jawa ....(?) Ah nggak juga deng -_________-  Yang ada aku malah kebanyakan bengong ngedengerin percakapan bapak dan para saudara pake bahasa Jawa tanpa diterjemahin kembali ke dalam bahasa Indonesia. Huft. Nah yang kelima nih, pastinya aku jadi kenal saudara. Selama ini saudara-saudara yang benar-benar kukenal ya saudara dari Medan, dari keluarga besar ibuku. Kalau dari Jawa mah, ya gitu. Kayaknya perjalanan mudik ini kudu dilakukan berkali-kali dulu deh kalau  mau bener-bener ketemu dan kenal langsung sama keluarga di Jawa. 

Hmm begitulah cerita panjangku sepanjang perjalanan yang baru saja kulewati. Gimana dengan kalian? Sepanjang kisahku gak? Hehehe..

Selasa, 22 Juli 2014

IPB # 1

Aku anak Depok.. lahir di Depok, tinggal dan sekolah di Depok (walaupun saat masih kecil beberapa kali pindah ke luar Depok). Saat kelas 12 adalah saat-saat tergalau. Galau untuk memilih jurusan kuliah dan PTN yang akan dituju. Untuk tujuan PTN, sebagian besar anak-anak Depok sepertinya punya mimpi yang sama, yaitu kuliah di sebuah PTN terkenal di seantero Indonesia, apalagi kalau bukan UI alias Universitas Indonesia yang letaknya di perbatasan Depok-Jakarta.
 
Awal kelas 12 yang kujalani penuh liku-liku. Butuh waktu lama untukku merenungi apa minat dan bakatku dan juga menyelaraskan dengan segala kondisi yang ada untuk menentukan jurusan apa yang nantinya akan kupilih saat kuliah. Saat itu hatiku masih terpaut dengan UI. Yang kuingat saat itu aku sempat tertarik dengan jurusan Teknik Industri dan Psikologi. Alasan memilih Teknik Industri karena yang aku tau nanti disitu aku akan belajar perpaduan antara teknik dan manajemen, dan menurutku itu pasti seru banget. Lalu alasan kenapa aku memilih Psikologi adalah karena aku suka mengamati orang dan pengen mempelajari tentang karakter tiap-tiap orang tersebut. Kemudian entah kenapa mulai terjadi konflik dalam diriku. Sejak mengikuti BKUI (Bedah Kampus UI), bukannya malah tertarik sama jurusan yang kuingini, yang ada malah ketertarikan itu justru menghilang. Aku lupa kenapa bisa begitu -__-. Namun yang pasti banyak sekali pertimbangan saat itu. 

Akhirnya seiring waktu berjalan, malah mulai suka dengan sebuah jurusan, yaitu jurusan Gizi, yang tentunya juga didasari banyak pertimbangan. Nah, saat mulai tumbuh ketertarikan sama jurusan ini, saat itu juga aku seperti menolak kalau aku memang suka dengan jurusan ini. Setelah lama kurasakan, akhirnya aku menyadari mengapa ada tolakan dalam diriku. Saat itu, aku merasa nggak enak dengan salah seorang sahabatku, yang dia juga ternyata pengen milih jurusan itu dari waktu yang lebih dahulu dibandingkan diriku. Aku hanya gak enak saja, tiba-tiba muncul, menyaingi sahabat sendiri untuk masuk jurusan itu di jalur SNMPTN (jalur undangan atau jalur tanpa tes). Lalu, entah kenapa, tiba-tiba ketertarikan terhadap jurusan Psikologi pun muncul lagi -.- .

Tibalah hari itu dimana ada acara pengenalan kampus di sekolahku. Saat itu fokusku ada di jurusan Psikologi. Aku pun menyimak presentasi kakak kelas yang dari jurusan Psikologi untuk IPA. Kemudian, giliran presentasi dari kakak-kakak yang kuliah di IPB. Karena aku memang dalam kondisi tidak stabil (tetep masih galau jurusan), tiba-tiba muncul ketertarikan untuk mencari tahu tentang IPB. Jeng-jeng..... Pokoknya aku terpikat dengan kalimat ini : “Negara Indonesia adalah negara agraris, sebagian besar adalah wilayah pertanian. Indonesia bisa menjadi negara yang makmur dan maju dengan pertaniannya, tapi sayangnya Indonesia belum bisa menjadi seperti itu karena Indonesia masih kekurangan SDM yang ahli di bidang pertanian ini, lalu kalau bukan kita, siapa lagi?” #jleeeb! Mulai deh itu pencarian seputar IPB.

IPB. Terletak di Bogor. Memiliki banyak fakultas dengan akreditasinya yang baik. Mahasiswa IPB akan mengalami masa Tingkat Persiapan Bersama (TPB) dan wajib menempati asrama TPB selama setahun. Yaa, ASRAMA! Itu yang mencuri perhatianku. Waktunya sangat pas saat aku memang berpikir untuk mencoba hidup mandiri dengan kuliah di luar Depok namun tidak terlalu jauh dari Depok. Hehe.. Pada akhirnya dengan banyaaaaaaak banget pertimbangan ini itu sana sini, pilihanku tetap jatuh pada jurusan Gizi, bukan Gizi UI, namun Gizi IPB. Pilihanku itu pun FIX. Sahabatku pun sama seperti aku, mengganti pilihannya seperti aku. Pada saat itu kita pun ngomongin masalah ini berdua, pokoknya kita akan siap menerima kenyataan  siapapun yang nantinya akan diterima di jurusan ini melalui jalur undangan.

 Kemudian ada yang unik aja dalam diriku saat itu. Aku bukannya sangat mengidam-idamkan jurusan yang akan aku masuki, tapi aku justru seperti sedang jatuh hati dengan IPB nya. Pokoknya aku sampai kepikiran untuk masuk jurusan apapun di IPB, yang penting masuk IPB deh. Banyak pikiran positif saat memikirkan IPB. Tempatnya adem (nggak juga sih sebenarnya -,-), bebas polusi, tenang, dan tentunya kehidupan akan seru dengan tinggal di Asrama selama setahun, bertemu teman-teman dari seluruh penjuru di Indonesia. Beda saat memikirkan UI. Aku mikirnya, tiap hari pasti kena macet, dan polusi ala Depok. Belum lagi aku termasuk orang yang gampang sakit. Kalau badan udah capek, ditambah kena polusi udara, jadi gampang kena flu. :( Kemudian yang paling kupikirkan adalah kalau aku masuk UI, kesempatanku untuk belajar mandiri pun sedikit.

Pada akhirnyaaaa, tak kusangka aku pun diterima di Ilmu Gizi IPB (Alhamdulillaaah :) ). Tapi sahabatku tidak. Tapi aku yakin dia pasti bisa masuk lewat jalur SBMPTN (jalur tulis). Dan Alhamdulillaah kita memang seperti sudah ditakdirkan berdua (cieeeee :DD), dia pun lolos melalui SBMPTN. ^_____^ Horeeeee. Sahabatku ini bernama Mares. Kita juga dulunya seperjuangan di Rohis Smansa. 2 tahun bersama di divisi yang sama. Tahun pertama sama-sama menjadi anggota. Tahun kedua aku menjadi ‘anak’nya dia. Hehehehe.

Lalu, ngomongin tentang asrama, banyak banget cerita tentang asrama ini walaupun baru kurang lebih 2 minggu disini. Awal Ramadhan tahun ini dijalani di asrama, bersama teman-teman baru :D. 

Ceritaku di asrama, mulai dari saat pertama kali menginjakkan kaki di asrama, rasanya tu bahagia banget tanpa kepikiran homesick sama sekali, hingga sampailah pada hari yang merupakan hari pertama kuliah, dimana saat itu homesick pun mulai sangat terasa. Aku akan mengingat saat dimana tiap pagi tiba-tiba aku suka nangis sendiri (ini beneran loh) bahkan sering tiba-tiba nangis kalau ada yang lagi cerita tentang orangtua, terutama ibu. :””” . Mulai terasa berat, nyari makan sendiri, nyuci sendiri, dan merasa gak kuat saat melihat teman-teman kelimpungan dengan tugas kuliahnya. Ya, inilah proses adaptasi. Pada akhirnya, makin lama, makin terbiasa dengan semua itu. Alhamdulillah, segala homesick itu pun semakin hari kian meredup seiring dengan adanya segala kegiatan yang kita lakukan baik di dalam asrama maupun di luar asrama yang dipenuhi dengan keceriaan dan canda tawa (cailaaah). 

Lalu, gimana sih pengalaman Ramadhan di asrama?  :)

Mulai dari sahur. Di asrama, ada jadwal per lorong yang nantinya bakal bertugas untuk membangunkan sahur. Aku akan mengingat saat dimana sekitar jam 2an dini hari tiba-tiba ada kehebohan mendadak, seperti ada yang lagi demo di lorong asrama. Pokoknya heboh bangeeet, ada suara kecrekan botol, suara gedor-gedor pintu, dan suara teriakan "SAHUR...SAHUUR!!". Yaaaa, emang sih mata langsung melek, tapi habis itu merem lagi, soalnya masih pagi banget, wkwk XD.


Lanjut, saat waktu berbuka. Aku akan mengingat saat dimana aku dan teman-teman di-php-in. Ada 2 kali acara buka bersama 1 angkatan. Tempat acaranya pun lumayan agak jauhlah dari asrama. Awalnya kita kira, kita bener-bener akan buka bersama, makan bersama 1 angkatan di satu tempat. Tapi kenyataannya acara buka bersamanya tidak sampai ‘buka bersama’, pada akhirnya kita membawa pulang makanan yang udah kita dapatkan dan tetap buka puasa sendiri di asrama masing-masing. Sesuatu banget deh yak. -___-

 Lalu, saat sholat tarawih bersama, kejadian yang tak akan kulupakan, diri ini pasrah saat melihat seekor makhluk kecil berekor panjang nan cantik dengan santainya melenggok-lenggok bak model melewati sajadah-sajadah kita -________- . Ngomongin tentang makhluk kecil bernama kucing itu, entah kenapa di asrama tu kucing ada banyak dan ada dimana-mana. Bahkan di sekitar kamarku yang ada di lantai 2 dan paling pojok, kucing pun tetap mudah ditemui. Wkwkwk...  Kemudian malamnya setelah taraweh, ada saja kegiatannya, entah itu solong (soga lorong), sodung (soga gedung), ataupun ngadung (ngaji gedung). 

Jadi, pendapatku sebagai mahasiswa baru dan juga sebagai insan asrama baru, pokoknya asrama itu seru deeeeh, dan Insya Allah tetep dan makin seru kedepannya ^_^. Terlepas dari krisis sinyal dan (katanya) krisis air di asrama, rasanya diri ini tetap bahagia bawaannya kalau melihat teman-teman yang gila-gila di asrama, hahaha XD.

Kira-kira 2 minggu telah berlalu, UTS pun sudah kita lalui, dan sekarang saatnya liburan. Mayoritas orang-orang balik ke kampung halamannya masing-masing, termasuk aku sendiri. Pulang ke Depok, haha... Apa yang kurasakan? Senang? Ya tentuu.. Tapi ada yang lebih dari itu. Kalau aku pribadi, aku malah merasakan Dormitory-sick lhoo, haha.. Bahkan Dormitory-sick ini mengalahkan rasa homesick-ku :””””

Ya, aku kangen kehidupan di asrama. Dulu aku bilang “Pengen cepet-cepet tinggal di asrama nih, tapi nggak pengen cepet-cepet matrikulasi.” Sekarang aku mau bilang “Pengen deh cepet-cepet BALIK ke asrama, walaupun harus menghadapi matrikulasi season 2” Kyaaaaaaaaa.