Aku anak Depok.. lahir di Depok, tinggal dan sekolah di Depok (walaupun saat
masih kecil beberapa kali pindah ke luar Depok). Saat kelas 12 adalah saat-saat
tergalau. Galau untuk memilih jurusan kuliah dan PTN yang akan dituju. Untuk
tujuan PTN, sebagian besar anak-anak Depok sepertinya punya mimpi yang sama,
yaitu kuliah di sebuah PTN terkenal di seantero Indonesia, apalagi kalau bukan
UI alias Universitas Indonesia yang letaknya di perbatasan Depok-Jakarta.
Awal kelas 12 yang kujalani penuh liku-liku. Butuh waktu lama untukku
merenungi apa minat dan bakatku dan juga menyelaraskan dengan segala kondisi
yang ada untuk menentukan jurusan apa yang nantinya akan kupilih saat kuliah.
Saat itu hatiku masih terpaut dengan UI. Yang kuingat saat itu aku sempat
tertarik dengan jurusan Teknik Industri dan Psikologi. Alasan memilih Teknik
Industri karena yang aku tau nanti disitu aku akan belajar perpaduan antara
teknik dan manajemen, dan menurutku itu pasti seru banget. Lalu alasan kenapa
aku memilih Psikologi adalah karena aku suka mengamati orang dan pengen
mempelajari tentang karakter tiap-tiap orang tersebut. Kemudian entah kenapa
mulai terjadi konflik dalam diriku. Sejak mengikuti BKUI (Bedah Kampus UI),
bukannya malah tertarik sama jurusan yang kuingini, yang ada malah ketertarikan
itu justru menghilang. Aku lupa kenapa bisa begitu -__-. Namun yang pasti
banyak sekali pertimbangan saat itu.
Akhirnya seiring waktu berjalan, malah mulai suka dengan sebuah jurusan,
yaitu jurusan Gizi, yang tentunya juga didasari banyak pertimbangan. Nah, saat
mulai tumbuh ketertarikan sama jurusan ini, saat itu juga aku seperti menolak
kalau aku memang suka dengan jurusan ini. Setelah lama kurasakan, akhirnya aku
menyadari mengapa ada tolakan dalam diriku. Saat itu, aku merasa nggak enak
dengan salah seorang sahabatku, yang dia juga ternyata pengen milih jurusan itu
dari waktu yang lebih dahulu dibandingkan diriku. Aku hanya gak enak saja,
tiba-tiba muncul, menyaingi sahabat sendiri untuk masuk jurusan itu di jalur
SNMPTN (jalur undangan atau jalur tanpa tes). Lalu, entah kenapa, tiba-tiba
ketertarikan terhadap jurusan Psikologi pun muncul lagi -.- .
Tibalah hari itu dimana ada acara pengenalan kampus di sekolahku. Saat itu
fokusku ada di jurusan Psikologi. Aku pun menyimak presentasi kakak kelas yang
dari jurusan Psikologi untuk IPA. Kemudian, giliran presentasi dari kakak-kakak
yang kuliah di IPB. Karena aku memang dalam kondisi tidak stabil (tetep masih
galau jurusan), tiba-tiba muncul ketertarikan untuk mencari tahu tentang IPB.
Jeng-jeng..... Pokoknya aku terpikat dengan kalimat ini : “Negara Indonesia
adalah negara agraris, sebagian besar adalah wilayah pertanian. Indonesia bisa
menjadi negara yang makmur dan maju dengan pertaniannya, tapi sayangnya
Indonesia belum bisa menjadi seperti itu karena Indonesia masih kekurangan SDM
yang ahli di bidang pertanian ini, lalu kalau bukan kita, siapa lagi?” #jleeeb!
Mulai deh itu pencarian seputar IPB.
IPB. Terletak di Bogor. Memiliki banyak fakultas dengan akreditasinya
yang baik. Mahasiswa IPB akan mengalami masa Tingkat Persiapan Bersama (TPB)
dan wajib menempati asrama TPB selama setahun. Yaa, ASRAMA! Itu yang
mencuri perhatianku. Waktunya sangat pas saat aku memang berpikir untuk mencoba
hidup mandiri dengan kuliah di luar Depok namun tidak terlalu jauh dari Depok.
Hehe.. Pada akhirnya dengan banyaaaaaaak banget pertimbangan ini itu sana sini,
pilihanku tetap jatuh pada jurusan Gizi, bukan Gizi UI, namun Gizi IPB.
Pilihanku itu pun FIX. Sahabatku pun sama seperti aku, mengganti pilihannya
seperti aku. Pada saat itu kita pun ngomongin masalah ini berdua, pokoknya kita
akan siap menerima kenyataan siapapun yang nantinya akan diterima di
jurusan ini melalui jalur undangan.
Kemudian ada yang unik aja dalam diriku saat itu. Aku bukannya sangat
mengidam-idamkan jurusan yang akan aku masuki, tapi aku justru seperti sedang
jatuh hati dengan IPB nya. Pokoknya aku sampai kepikiran untuk masuk jurusan
apapun di IPB, yang penting masuk IPB deh. Banyak pikiran positif saat
memikirkan IPB. Tempatnya adem (nggak juga sih sebenarnya -,-), bebas polusi,
tenang, dan tentunya kehidupan akan seru dengan tinggal di Asrama selama
setahun, bertemu teman-teman dari seluruh penjuru di Indonesia. Beda saat
memikirkan UI. Aku mikirnya, tiap hari pasti kena macet, dan polusi ala Depok.
Belum lagi aku termasuk orang yang gampang sakit. Kalau badan udah capek,
ditambah kena polusi udara, jadi gampang kena flu. :( Kemudian yang paling
kupikirkan adalah kalau aku masuk UI, kesempatanku untuk belajar mandiri pun
sedikit.
Pada akhirnyaaaa, tak kusangka aku pun diterima di Ilmu Gizi IPB
(Alhamdulillaaah :) ). Tapi sahabatku tidak. Tapi aku yakin dia pasti bisa
masuk lewat jalur SBMPTN (jalur tulis). Dan Alhamdulillaah kita memang seperti
sudah ditakdirkan berdua (cieeeee :DD), dia pun lolos melalui SBMPTN. ^_____^
Horeeeee. Sahabatku ini bernama Mares. Kita juga dulunya seperjuangan di Rohis
Smansa. 2 tahun bersama di divisi yang sama. Tahun pertama sama-sama menjadi
anggota. Tahun kedua aku menjadi ‘anak’nya dia. Hehehehe.
Lalu, ngomongin tentang asrama, banyak banget cerita tentang asrama ini
walaupun baru kurang lebih 2 minggu disini. Awal Ramadhan tahun ini dijalani di
asrama, bersama teman-teman baru :D.
Ceritaku di asrama, mulai dari saat pertama kali menginjakkan kaki di
asrama, rasanya tu bahagia banget tanpa kepikiran homesick sama sekali, hingga
sampailah pada hari yang merupakan hari pertama kuliah, dimana saat itu
homesick pun mulai sangat terasa. Aku akan mengingat saat dimana tiap pagi
tiba-tiba aku suka nangis sendiri (ini beneran loh) bahkan sering tiba-tiba
nangis kalau ada yang lagi cerita tentang orangtua, terutama ibu. :””” . Mulai
terasa berat, nyari makan sendiri, nyuci sendiri, dan merasa gak kuat saat
melihat teman-teman kelimpungan dengan tugas kuliahnya. Ya, inilah proses
adaptasi. Pada akhirnya, makin lama, makin terbiasa dengan semua itu.
Alhamdulillah, segala homesick itu pun semakin hari kian meredup seiring dengan
adanya segala kegiatan yang kita lakukan baik di dalam asrama maupun di luar
asrama yang dipenuhi dengan keceriaan dan canda tawa (cailaaah).
Lalu, gimana sih pengalaman Ramadhan di asrama? :)
Mulai dari sahur. Di asrama, ada jadwal per lorong yang nantinya bakal
bertugas untuk membangunkan sahur. Aku akan mengingat saat dimana sekitar jam
2an dini hari tiba-tiba ada kehebohan mendadak, seperti ada yang lagi demo di
lorong asrama. Pokoknya heboh bangeeet, ada suara kecrekan botol, suara gedor-gedor pintu, dan suara teriakan "SAHUR...SAHUUR!!". Yaaaa, emang sih mata langsung melek, tapi habis itu merem lagi, soalnya masih pagi banget, wkwk XD.
Lanjut, saat waktu berbuka. Aku akan mengingat saat dimana aku dan
teman-teman di-php-in. Ada 2 kali acara buka bersama 1 angkatan. Tempat
acaranya pun lumayan agak jauhlah dari asrama. Awalnya kita kira, kita
bener-bener akan buka bersama, makan bersama 1 angkatan di satu tempat. Tapi
kenyataannya acara buka bersamanya tidak sampai ‘buka bersama’, pada akhirnya
kita membawa pulang makanan yang udah kita dapatkan dan tetap buka puasa
sendiri di asrama masing-masing. Sesuatu banget deh yak. -___-
Lalu, saat sholat tarawih bersama, kejadian yang tak akan kulupakan,
diri ini pasrah saat melihat seekor makhluk kecil berekor panjang nan cantik
dengan santainya melenggok-lenggok bak model melewati sajadah-sajadah kita
-________- . Ngomongin tentang makhluk kecil bernama kucing itu, entah kenapa di asrama tu kucing ada banyak dan ada dimana-mana. Bahkan di sekitar kamarku yang ada di lantai 2 dan paling pojok, kucing pun tetap mudah ditemui. Wkwkwk... Kemudian malamnya setelah taraweh, ada saja kegiatannya, entah itu
solong (soga lorong), sodung (soga gedung), ataupun ngadung (ngaji
gedung).
Jadi, pendapatku sebagai mahasiswa baru dan juga sebagai insan asrama baru,
pokoknya asrama itu seru deeeeh, dan Insya Allah tetep dan makin seru
kedepannya ^_^. Terlepas dari krisis sinyal dan (katanya) krisis air di asrama,
rasanya diri ini tetap bahagia bawaannya kalau melihat teman-teman yang
gila-gila di asrama, hahaha XD.
Kira-kira 2 minggu telah berlalu, UTS pun sudah kita lalui, dan sekarang
saatnya liburan. Mayoritas orang-orang balik ke kampung halamannya
masing-masing, termasuk aku sendiri. Pulang ke Depok, haha... Apa yang
kurasakan? Senang? Ya tentuu.. Tapi ada yang lebih dari itu. Kalau aku pribadi,
aku malah merasakan Dormitory-sick lhoo, haha.. Bahkan Dormitory-sick ini
mengalahkan rasa homesick-ku :””””
Ya, aku kangen kehidupan di asrama. Dulu aku bilang “Pengen cepet-cepet
tinggal di asrama nih, tapi nggak pengen cepet-cepet matrikulasi.” Sekarang aku
mau bilang “Pengen deh cepet-cepet BALIK ke asrama, walaupun harus menghadapi
matrikulasi season 2” Kyaaaaaaaaa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar