Kini aku sudah beranjak 20 tahun. Menuju umur 21 tahun. Perkuliahanku sudah tinggal setahun lagi. Hanya tersisa KKN (Kuliah Kerja Nyata), terus ID (Internship Dietetik) alias magang di rumah sakit, ngegarap skripsi, seminar, sidang, dan akhirnya wisuda. 3 tahun aku menjalani kehidupan kampus. Berusaha mencari jati diriku yang sebenarnya. Berusaha menjalani perkuliahan dan praktikum dengan sebaik mungkin walau realitanya tidak seideal yang diharapkan. Tugas dikerjakan mepet deadline dan asal selesai. Di kelas, ketika kuliah malah dipakai buat mengerjakan tugas atau malah tidur (terutama di tingkat 3 ini). Belum lagi ujian yang masih belajar pakai sistem SKS. Yah, itu terjadi seiring dengan kenaikan tingkat perkuliahan yang mana kuliah semakin padat, masuk jam 7 pulang jam 6, tugas semakin banyak dan semakin abstrak dan membutuhkan banyak ide dan banyak waktu untuk menyelesaikannya, dan ditambah lagi dengan kegiatan organisasi. Yap organisasi. Tahun pertama di kampus, aku hanya mengikuti kepanitiaan, tahun kedua aku masuk DPM Fakultas dan diamanahi memegang keuangan, hingga tahun ketiga ini aku bergabung menjadi pengurus himpunan profesi gizinya IPB (HIMAGIZI) di divisi PSDM yang prokernya lumayan banyak.
Awalku masuk HIMAGIZI, aku bener-bener banyak belajar. Banyak banget hal baru yang emang nggak pernah kulakuin ketika DPM. Ya, itu sudah pasti. Wong DPM hubungannya sama legislator (mengevaluasi, menilai, membuat aturan), dan HIMAGIZI sebagai organisasi eksekutor yang banyak bikin acara ini itu dengan berbagai macam kepanitiaan. Ya, memang sih dulu ketika di SMA, aku banyak pengalaman di kepanitiaan, baik di ROHIS maupun di MPOS (MPK/OSIS). Tapi karena lama tak diasah lagi, jadinya kayak kagok lagi. Nah, masuk di PSDM, aku sempat terkejut. Seketika aku diamanahin memegang acara pertama PSDM, yang merupakan event yang lumayan cukup besar, yaitu ANIMAZI (acara ulang tahunnya HIMAGIZI), sebagai ketua pelaksananya! Aku benar-benar banyak meraba-raba, apa yang harus aku lakukan, sikapku sebagai ketua harus seperti apa, dan ANIMAZI sendiri mau dibikin seperti apa?? Aku benar-benar bingung dulu. Belum lagi aku masih mencoba beradaptasi dengan para anggota baru PSDM yang angkatan lebih muda dari aku yang menjadi ketua divisi di semua divisi di kepanitiaan ANIMAZI. Lalu rapat. Ada banyak rapat yang baru kukenal, mulai dari RG (rapat general), rapim (rapat pimpinan), rakor (rapat koordinasi), dan radiv (rapat divisi). Dulu ketika aku di DPM, aku hanya mengenal yang namanya pleno. Ya, oke.. Pada akhirnya aku berusaha belajar menjalani peranku sebagai ketua dengan usaha semaksimal yang kubisa dengan banyak nanya-nanya ke teman-teman PSDMku yang seangkatan.
Berbicara tentang ketua, berbicara tentang pemimpin. Disini aku mau ngebahas tentang seorang pemimpin yang memimpin orang lain. Sebenarnya apa sih yang ada di benak kalian ketika mendengar kata pemimpin? Apa sih kriteria yang harusnya ada pada seorang pemimpin? Kenapa aku tiba-tiba membicarakan ini? Kebetulan sekarang aku lagi berada di titik mendapatkan sedikit pencerahan, tentang diriku ini, tentang kriteria pemimpin ideal berdasarkan pendapat dan pengalamanku dipimpin berbagai macam orang selama ini, dan tentang sudah atau belum pantaskah aku untuk memimpin?
Sebelumnya aku mau membicarakan sedikit tentang diriku ini. Aku termasuk orang introvert yang kata orang-orang tuh orang introvert itu cenderung pendiam. Iya itu diriku. Aku cenderung lebih suka mendengarkan dibandingkan berbicara. Aku yang suka mikir dulu kalau ketemu orang baru aku harus ngomongin apa sama orang itu. Tapi aku gampang diajak ngobrol. Kalau orang lain udah mulai obrolannya, ya aku bisa aja ikutan ngoceh banyak pada akhirnya. Tapi ada batasnya juga. Karena kebanyakan ngomong itu sungguh menguras energi hehe. Lalu tentang berbicara di depan umum. Beberapa minggu yang lalu aku baru saja turun ke posyandu, menyampaikan materi gizi ke ibu-ibu hamil dan ibu balita. Wah. Jadi pemateri? Bisa dibilang itu hasil kocokan kelompok yang tidak menguntungkan. Seminggu sebelum turun ke posyandu, sempat ada simulasi pemateri. Disitu aku coba presentasi materinya (Ya, mendadak, tanpa persiapan sama sekali). Hasilnya? Grogi. Kaku. Aku nggak berhasil membawa suasana. Padahal itu baru simulasi di depan teman sekelas loh, gimana ntar di depan ibu-ibu? Lalu kulihat teman-teman lainnya yang simulasi juga. Ada yang lancar ngomong kayak tanpa hambatan padahal mereka juga tanpa persiapan belajar sama sekali. Ya, itulah aku. Katanya sih ini termasuk salah satu ciri orang introvert, not easy to make improvisation.
Aku sempat berdebat sama temanku buat tukeran jobdesc buat nyampein materi, tapi temanku nolak. Aku bener-bener dalam kondisi takut saat itu. Aku bingung banget gimana caranya supaya materi yang kusampein itu bisa dikasih penjelasan secara lebih luas. Aku sempat nanya ke temanku itu, dan spontan temenku memberikan contoh. Aku langsung ngerengek ke temanku itu, “tuh kan, kamu jago ngejelasin.. ntar sama aku krik krik lagi”. Dan temanku emang gak pengertian banget deh. Tetap gak mau tukeran jobdesc jadi pemateri -,- . Dia mendukung aku kalau aku pasti bisa. Masalahnya lagi-lagi aku termasuk orang yang butuh sesuatu untuk dicontoh supaya aku bisa. Aku belum kebayang ngasih penyuluhan ke ibu-ibu posyandu tuh baiknya gimana sihh? Suasana rame di Posyandunya ntar bakal kayak gimana sih? Aku benar-benar berpikir keras karena aku belum ada bayangan ataupun pengalaman, gimana caranya bisa ngejelasin materinya panjang lebar, terus bisa berinteraksi dengan ibu-ibunya nantinya yang juga bakal rame ngebawa anaknya. Belum lagi ngejelasinnya gak pake slide karena gak ada LCD. Hahhh, percayalah hal sesepele itu bisa bikin aku stress berat. Itu salah satu yang kupikirin juga gimana jadinya kalau pas KKN ntar ya? :””
Yap, aku sepertinya memang dilahirkan untuk lebih bekerja keras dibandingkan orang lain. Seperti contoh di atas, sebagai pemateri, aku dituntut untuk lebih banyak berpikir di awal bahkan mencatatnya, kayak gimana caranya aku ngejelasin materi panjang lebar, nyari kaitannya dengan kehidupan sehari-hari sperti apa, dan gimana caranya aku berinteraksi dengan si ibu-ibunya. Aku benar-benar tidak bisa langsung seketika berimprovisasi. Aduh, itu sulit banget. Terkadang aku bahkan suka iri sama orang-orang yang bisa aja itu ngomong panjang lebar tanpa sebelumnya ada persiapan sama sekali. Bahkan sampai perintilan kata per kata pun harus kususun. Mulai dari nanya kabar. Aku harus kayak gimana ya nanya kabar ke ibu-ibunya. Beuhhhh... Apa yang terjadi kalau itu semuanya nggak dipersiapin? Aku bakal grogi dan akhirnya ngomongnya bisa belepotan atau malah banyak “hmm” nya.
Terus ini apa kaitannya dengan pemimpin? Ya, pemimpin yang aku temui umumnya jago improvisasi. Ya, bisa juga karena pengalaman dan udah terbiasa. Aku mencoba berefleksi diri. Contohnya, ketika aku menjadi ketua ANIMAZI, dalam memimpin rapat, dalam memberikan sambutan, dalam memberikan evaluasi panitia, dan dalam menyemangati anggota ketika rapat. Itu sungguh nggak mudah. Dengan karakterku seperti ini, semua hal yang mau kusampaikan tersebut harus sebelumnya kupersiapin terlebih dahulu. Seringnya, aku tahu sesuatu yang benar itu seperti apa, tapi aku bingung bagaimana menyampaikannya di depan umum seperti itu. Kondisi ini juga seiring dengan ketika menyampaikan pendapat. Aku ingat dulu ketika LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) di SMA. Mungkin aku termasuk yang jarang berpendapat. Ya, bukan berarti aku gak mau menyampaikan pendapat. Aku selalu ingin menyampaikan pendapat, hanya saja aku membutuhkan waktu untuk menyusun kata-katanya, dan berakhir dengan pendapat yang sedang kupikirkan di otakku itu tersampaikan duluan oleh orang lain. Alhasil aku pun tidak jadi ngomong dan seakan-akan aku terbilang tidak aktif alias pasif. Ya mungkin ini sedikit jadi pembelajaran buat diriku dan juga buat orang lain. Buat diriku sendiri, aku harus lebih berusaha untuk gak kelamaan mikir, dan buat orang lain mungkin bisa mencoba mengerti bahwa ada loh orang (dalam jumlah yang tidak sedikit) yang seperti aku ini. I’m not passive, I just need time to think it. Dan, biasanya aku lebih suka dengan pemimpin yang langsung menunjuk anggotanya satu-satu dan memberikan kesempatan untuk setiap anggotanya untuk mengeluarkan isi pikirannya. Dengan begitu, anggotanya akan merasa lebih dihargai. That’s it J
Terus, pemimpin itu biasanya konseptor (iya gak sih?). Dia cenderung bisa mengeluarkan ide-ide tanpa sebelumnya dipikirkan. Ya, bisa juga ini karena pengalaman. But, lagi-lagi diriku ini termasuk yang tak mudah mengusungkan ide secara spontan. Aku kudu banyak mikir dengan hal-hal beginian. Mungkin karena itulah aku jarang ada di divisi acara kalau di kepanitiaan. Tapi keirian emang selalu ada. Mungkin aku terlalu sering melihat orang yang gampang munculin ide seperti itu dan banyak berprestasi sehingga aku jadi kesal sendiri dengan diriku yang tidak seperti mereka. Evaluasi terhadap diriku? Banyak belajar, banyak berdoa, dan mencoba berdamai dengan hati, menerima dengan ikhlas kalau aku emang harus lebih banyak “berusaha” dalam hal ini.
Lalu, bisa merangkul seluruh anggotanya. Ini nih karakter pemimpin yang harus dimiliki. Sepintar apapun dan sejago apapun ngomongnya seorang pemimpin, kalau di suatu waktu di jalan ia ketemu anggotanya dan melengos aja tanpa menyapa atau minimal senyum, aku tidak akan respect terhadap pemimpin seperti itu. Ya, mau gak mau pemimpin harus kenal betul satu per satu anggotanya itu. Aku selalu punya kesan bahagia sendiri ketika aku sering disapa duluan sama seorang ketua ketika dulu saat SMA pas papasan lagi jalan. Terus selalu ditanya kabar, dan ditanyain lagi atau mau ngapain. Ya, pemimpin harus perhatian sama anggotanya. Apalagi kalau mulai ilang-ilang tuh anggota. Coba ditanya dan dikulik terus secara personal kenapa tuh si dia bisa ngilang. Aku pernah dipimpin dengan seorang ketua yang ngebiarin aja anggotanya ngilang hingga akhir. Dan aku sedih :”. Aku pernah mengalami kondisi dimana temanku benar-benar hilang dalam waktu yang cukup lama. Yang lain ngebiarin aja, tapi kondisi itu sungguh mengganjal diriku. Akhirnya aku pun neror dia (sms, line, wa, telepon berpuluh-puluh kali) sampai dia memberikan balasan dan akhirnya dia mau bergabung lagi. Terus, pemimpin juga harus sadar kemana apakah anggotanya sudah lengkap atau ada yang nggak datang dalam suatu pertemuan.
Ya, itulah yang mau aku sampein. Banyak banget karakter lainnya yang kudu dimiliki seorang pemimpin. Pemimpin tuh harus tau bener apa kelebihan dan kekurangan dirinya dan gimana caranya dia bisa memaksimalkan kelebihannya dan meminimalisir kekurangannya itu. Pemimpin harus siap mendapat banyak tekanan, siap rela berkorban, dan tau betul mana yang harus diprioritaskan utama. Pemimpin harus bisa mendelegasikan tugas ke orang lain, dan merata, jangan sampai memendam beban sendiri atau tugas yang dibagi malah berat sebelah. Pemimpin harus bisa mendengar nasihat atau kritikan dari orang lain. Pemimpin harus visioner, tau apa hal yang bakal dilakuin, tau organisasi atau yang dipimpinnya itu mau dibawa kemana, tau evaluasi-evaluasi dari sebelumnya sehingga nggak mengulangi kesalahan yang sama. Pemimpin harus cerdas dan bisa dijadikan teladan yang baik. Jangan milih ketua yang akhlaknya kurang baik, sholatnya masih nunda-nunda atau malah lewat dari waktunya, dan kalau bisa pilih ketua yang bisa seimbang antara akademik dan non akademik (kalau lagi sekolah atau kuliah). Ya, nilainya gak harus excellent laah, tapi jangan sampai banyak remedial juga. Yang terakhir, pemimpin harus amanah.
Ya, itu aja yang mau kusampein tentang pemimpin. Aku cuman lagi kepikiran terus akhir-akhir ini, aku harus mempersiapkan apa saja ya sebagai calon pemimpin masa depan? Hingga saat ini, aku masih harus banyak belajar karena aku sendiri masih banyak kurangnya. Semangaaaatt.. !!!
Mohon doa’nya juga ya supaya aku gak kebanyakan galaunyaa, bisa berdamai dengan diri sendiri, bisa menjadi orang yang lebih baik lagi dan berbagi kebermanfaatan banyak buat orang lain.. hehe~~ Do'ain juga biar cepet ketemu jodoh #ehh.
*Curhatan ditulis tepat setelah buka bersama ekskul rampak kendang yang sekaligus ada kegiatan pemilihan ketua rampaknya*


