Rabu, 21 Juni 2017

About Myself and Ideal Leader

      Kini aku sudah beranjak 20 tahun. Menuju umur 21 tahun. Perkuliahanku sudah tinggal setahun lagi. Hanya tersisa KKN (Kuliah Kerja Nyata), terus ID (Internship Dietetik) alias magang di rumah sakit, ngegarap skripsi, seminar, sidang, dan akhirnya wisuda. 3 tahun aku menjalani kehidupan kampus. Berusaha mencari jati diriku yang sebenarnya. Berusaha menjalani perkuliahan dan praktikum dengan sebaik mungkin walau realitanya tidak seideal yang diharapkan. Tugas dikerjakan mepet deadline dan asal selesai. Di kelas, ketika kuliah malah dipakai buat mengerjakan tugas atau malah tidur (terutama di tingkat 3 ini). Belum lagi ujian yang masih belajar pakai sistem SKS. Yah, itu terjadi seiring dengan kenaikan tingkat perkuliahan yang mana kuliah semakin padat, masuk jam 7 pulang jam 6, tugas semakin banyak dan semakin abstrak dan membutuhkan banyak ide dan banyak waktu untuk menyelesaikannya, dan ditambah lagi dengan kegiatan organisasi. Yap organisasi. Tahun pertama di kampus, aku hanya mengikuti kepanitiaan, tahun kedua aku masuk DPM Fakultas dan diamanahi memegang keuangan, hingga tahun ketiga ini aku bergabung menjadi pengurus himpunan profesi gizinya IPB (HIMAGIZI) di divisi PSDM yang prokernya lumayan banyak.
       Awalku masuk HIMAGIZI, aku bener-bener banyak belajar. Banyak banget hal baru yang emang nggak pernah kulakuin ketika DPM. Ya, itu sudah pasti. Wong DPM hubungannya sama legislator (mengevaluasi, menilai, membuat aturan), dan HIMAGIZI sebagai organisasi eksekutor yang banyak bikin acara ini itu dengan berbagai macam kepanitiaan. Ya, memang sih dulu ketika di SMA, aku banyak pengalaman di kepanitiaan, baik di ROHIS maupun di MPOS (MPK/OSIS). Tapi karena lama tak diasah lagi, jadinya kayak kagok lagi. Nah, masuk di PSDM, aku sempat terkejut. Seketika aku diamanahin memegang acara pertama PSDM, yang merupakan event yang lumayan cukup besar, yaitu ANIMAZI (acara ulang tahunnya HIMAGIZI), sebagai ketua pelaksananya! Aku benar-benar banyak meraba-raba, apa yang harus aku lakukan, sikapku sebagai ketua harus seperti apa, dan ANIMAZI sendiri mau dibikin seperti apa?? Aku benar-benar bingung dulu. Belum lagi aku masih mencoba beradaptasi dengan para anggota baru PSDM yang angkatan lebih muda dari aku yang menjadi ketua divisi di semua divisi di kepanitiaan ANIMAZI. Lalu rapat. Ada banyak rapat yang baru kukenal, mulai dari RG (rapat general), rapim (rapat pimpinan), rakor (rapat koordinasi), dan radiv (rapat divisi). Dulu ketika aku di DPM, aku hanya mengenal yang namanya pleno. Ya, oke.. Pada akhirnya aku berusaha belajar menjalani peranku sebagai ketua dengan usaha semaksimal yang kubisa dengan banyak nanya-nanya ke teman-teman PSDMku yang seangkatan.
         Berbicara tentang ketua, berbicara tentang pemimpin. Disini aku mau ngebahas tentang seorang pemimpin yang memimpin orang lain. Sebenarnya apa sih yang ada di benak kalian ketika mendengar kata pemimpin? Apa sih kriteria yang harusnya ada pada seorang pemimpin? Kenapa aku tiba-tiba membicarakan ini? Kebetulan sekarang aku lagi berada di titik mendapatkan sedikit pencerahan, tentang diriku ini, tentang kriteria pemimpin ideal berdasarkan pendapat dan pengalamanku dipimpin berbagai macam orang selama ini, dan tentang sudah atau belum pantaskah aku untuk memimpin?
       Sebelumnya aku mau membicarakan sedikit tentang diriku ini. Aku termasuk orang introvert yang kata orang-orang tuh orang introvert itu cenderung pendiam. Iya itu diriku. Aku cenderung lebih suka mendengarkan dibandingkan berbicara. Aku yang suka mikir dulu kalau ketemu orang baru aku harus ngomongin apa sama orang itu. Tapi aku gampang diajak ngobrol. Kalau orang lain udah mulai obrolannya, ya aku bisa aja ikutan ngoceh banyak pada akhirnya. Tapi ada batasnya juga. Karena kebanyakan ngomong itu sungguh menguras energi hehe. Lalu tentang berbicara di depan umum. Beberapa minggu yang lalu aku baru saja turun ke posyandu, menyampaikan materi gizi ke ibu-ibu hamil dan ibu balita. Wah. Jadi pemateri? Bisa dibilang itu hasil kocokan kelompok yang tidak menguntungkan. Seminggu sebelum turun ke posyandu, sempat ada simulasi pemateri. Disitu aku coba presentasi materinya (Ya, mendadak, tanpa persiapan sama sekali). Hasilnya? Grogi. Kaku. Aku nggak berhasil membawa suasana. Padahal itu baru simulasi di depan teman sekelas loh, gimana ntar di depan ibu-ibu? Lalu kulihat teman-teman lainnya yang simulasi juga. Ada yang lancar ngomong kayak tanpa hambatan padahal mereka juga tanpa persiapan belajar sama sekali. Ya, itulah aku. Katanya sih ini termasuk salah satu ciri orang introvert, not easy to make improvisation.
       Aku sempat berdebat sama temanku buat tukeran jobdesc buat nyampein materi, tapi temanku nolak. Aku bener-bener dalam kondisi takut saat itu. Aku bingung banget gimana caranya supaya materi yang kusampein itu bisa dikasih penjelasan secara lebih luas. Aku sempat nanya ke temanku itu, dan spontan temenku memberikan contoh. Aku langsung ngerengek ke temanku itu, “tuh kan, kamu jago ngejelasin.. ntar sama aku krik krik lagi”. Dan temanku emang gak pengertian banget deh. Tetap gak mau tukeran jobdesc jadi pemateri -,- . Dia mendukung aku kalau aku pasti bisa. Masalahnya lagi-lagi aku termasuk orang yang butuh sesuatu untuk dicontoh supaya aku bisa. Aku belum kebayang ngasih penyuluhan ke ibu-ibu posyandu tuh baiknya gimana sihh? Suasana rame di Posyandunya ntar bakal kayak gimana sih? Aku benar-benar berpikir keras karena aku belum ada bayangan ataupun pengalaman, gimana caranya bisa ngejelasin materinya panjang lebar, terus bisa berinteraksi dengan ibu-ibunya nantinya yang juga bakal rame ngebawa anaknya. Belum lagi ngejelasinnya gak pake slide karena gak ada LCD. Hahhh, percayalah hal sesepele itu bisa bikin aku stress berat. Itu salah satu yang kupikirin juga gimana jadinya kalau pas KKN ntar ya? :””
      Yap, aku sepertinya memang dilahirkan untuk lebih bekerja keras dibandingkan orang lain. Seperti contoh di atas, sebagai pemateri, aku dituntut untuk lebih banyak berpikir di awal bahkan mencatatnya, kayak gimana caranya aku ngejelasin materi panjang lebar, nyari kaitannya dengan kehidupan sehari-hari sperti apa, dan gimana caranya aku berinteraksi dengan si ibu-ibunya. Aku benar-benar tidak bisa langsung seketika berimprovisasi. Aduh, itu sulit banget. Terkadang aku bahkan suka iri sama orang-orang yang bisa aja itu ngomong panjang lebar tanpa sebelumnya ada persiapan sama sekali. Bahkan sampai perintilan kata per kata pun harus kususun. Mulai dari nanya kabar. Aku harus kayak gimana ya nanya kabar ke ibu-ibunya. Beuhhhh... Apa yang terjadi kalau itu semuanya nggak dipersiapin? Aku bakal grogi dan akhirnya ngomongnya bisa belepotan atau malah banyak “hmm” nya.
     Terus ini apa kaitannya dengan pemimpin? Ya, pemimpin yang aku temui umumnya jago improvisasi. Ya, bisa juga karena pengalaman dan udah terbiasa. Aku mencoba berefleksi diri. Contohnya, ketika aku menjadi ketua ANIMAZI, dalam memimpin rapat, dalam memberikan sambutan, dalam memberikan evaluasi panitia, dan dalam menyemangati anggota ketika rapat. Itu sungguh nggak mudah. Dengan karakterku seperti ini, semua hal yang mau kusampaikan tersebut harus sebelumnya kupersiapin terlebih dahulu. Seringnya, aku tahu sesuatu yang benar itu seperti apa, tapi aku bingung bagaimana menyampaikannya di depan umum seperti itu. Kondisi ini juga seiring dengan ketika menyampaikan pendapat. Aku ingat dulu ketika LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) di SMA. Mungkin aku termasuk yang jarang berpendapat. Ya, bukan berarti aku gak mau menyampaikan pendapat. Aku selalu ingin menyampaikan pendapat, hanya saja aku membutuhkan waktu untuk menyusun kata-katanya, dan berakhir dengan pendapat yang sedang kupikirkan di otakku itu tersampaikan duluan oleh orang lain. Alhasil aku pun tidak jadi ngomong dan seakan-akan aku terbilang tidak aktif alias pasif. Ya mungkin ini sedikit jadi pembelajaran buat diriku dan juga buat orang lain. Buat diriku sendiri, aku harus lebih berusaha untuk gak kelamaan mikir, dan buat orang lain mungkin bisa mencoba mengerti bahwa ada loh orang (dalam jumlah yang tidak sedikit) yang seperti aku ini. I’m not passive, I just need time to think it. Dan, biasanya aku lebih suka dengan pemimpin yang langsung menunjuk anggotanya satu-satu dan memberikan kesempatan untuk setiap anggotanya untuk mengeluarkan isi pikirannya. Dengan begitu, anggotanya akan merasa lebih dihargai. That’s it J
         Terus, pemimpin itu biasanya konseptor (iya gak sih?). Dia cenderung bisa mengeluarkan ide-ide tanpa sebelumnya dipikirkan. Ya, bisa juga ini karena pengalaman. But, lagi-lagi diriku ini termasuk yang tak mudah mengusungkan ide secara spontan. Aku kudu banyak mikir dengan hal-hal beginian. Mungkin karena itulah aku jarang ada di divisi acara kalau di kepanitiaan. Tapi keirian emang selalu ada. Mungkin aku terlalu sering melihat orang yang gampang munculin ide seperti itu dan banyak berprestasi sehingga aku jadi kesal sendiri dengan diriku yang tidak seperti mereka.  Evaluasi terhadap diriku? Banyak belajar, banyak berdoa, dan mencoba berdamai dengan hati, menerima dengan ikhlas kalau aku emang harus lebih banyak “berusaha” dalam hal ini.
      Lalu, bisa merangkul seluruh anggotanya. Ini nih karakter pemimpin yang harus dimiliki. Sepintar apapun dan sejago apapun ngomongnya seorang pemimpin, kalau di suatu waktu di jalan ia ketemu anggotanya dan melengos aja tanpa menyapa atau minimal senyum, aku tidak akan respect terhadap pemimpin seperti itu. Ya, mau gak mau pemimpin harus kenal betul satu per satu anggotanya itu. Aku selalu punya kesan bahagia sendiri ketika aku sering disapa duluan sama seorang ketua ketika dulu saat SMA pas papasan lagi jalan. Terus selalu ditanya kabar, dan ditanyain lagi atau mau ngapain. Ya, pemimpin harus perhatian sama anggotanya. Apalagi kalau mulai ilang-ilang tuh anggota. Coba ditanya dan dikulik terus secara personal kenapa tuh si dia bisa ngilang. Aku pernah dipimpin dengan seorang ketua yang ngebiarin aja anggotanya ngilang hingga akhir. Dan aku sedih :”. Aku pernah mengalami kondisi dimana temanku benar-benar hilang dalam waktu yang cukup lama. Yang lain ngebiarin aja, tapi kondisi itu sungguh mengganjal diriku. Akhirnya aku pun neror dia (sms, line, wa, telepon berpuluh-puluh kali) sampai dia memberikan balasan dan akhirnya dia mau bergabung lagi. Terus, pemimpin juga harus sadar kemana apakah anggotanya sudah lengkap atau ada yang nggak datang dalam suatu pertemuan.
         Ya, itulah yang mau aku sampein. Banyak banget karakter lainnya yang kudu dimiliki seorang pemimpin. Pemimpin tuh harus tau bener apa kelebihan dan kekurangan dirinya dan gimana caranya dia bisa memaksimalkan kelebihannya dan meminimalisir kekurangannya itu. Pemimpin harus siap mendapat banyak tekanan, siap rela berkorban, dan tau betul mana yang harus diprioritaskan utama. Pemimpin harus bisa mendelegasikan tugas ke orang lain, dan merata, jangan sampai memendam beban sendiri atau tugas yang dibagi malah berat sebelah. Pemimpin harus bisa mendengar nasihat atau kritikan dari orang lain. Pemimpin harus visioner, tau apa hal yang bakal dilakuin, tau organisasi atau yang dipimpinnya itu mau dibawa kemana, tau evaluasi-evaluasi dari sebelumnya sehingga nggak mengulangi kesalahan yang sama. Pemimpin harus cerdas dan bisa dijadikan teladan yang baik. Jangan milih ketua yang akhlaknya kurang baik, sholatnya masih nunda-nunda atau malah lewat dari waktunya, dan kalau bisa pilih ketua yang bisa seimbang antara akademik dan non akademik (kalau lagi sekolah atau kuliah). Ya, nilainya gak harus excellent laah, tapi jangan sampai banyak remedial juga. Yang terakhir, pemimpin harus amanah.
          Ya, itu aja yang mau kusampein tentang pemimpin. Aku cuman lagi kepikiran terus akhir-akhir ini, aku harus mempersiapkan apa saja ya sebagai calon pemimpin masa depan? Hingga saat ini, aku masih harus banyak belajar karena aku sendiri masih banyak kurangnya. Semangaaaatt.. !!!

Mohon doa’nya juga ya supaya aku gak kebanyakan galaunyaa, bisa berdamai dengan diri sendiri, bisa menjadi orang yang lebih baik lagi dan berbagi kebermanfaatan banyak buat orang lain.. hehe~~ Do'ain juga biar cepet ketemu jodoh #ehh.


*Curhatan ditulis tepat setelah buka bersama ekskul rampak kendang yang sekaligus ada kegiatan pemilihan ketua rampaknya*  

Minggu, 12 Februari 2017

Simple Holiday , Thousand Stories

Hai blog, berjumpa kembali. Yap, sekarang lagi liburan semester nih. Hanya 1 bulan, sebelum berjumpa dengan semester baru yang entah kenapa menjadi semester yang paling bikin aku deg-degan. Semester 6, yang katanya semester terberat selama di GM (departemenku, Gizi Masyarakat). Dan liburan 1 bulan ini lebih banyak kuhabiskan di rumah, dibanding keluar rumah. Wkwkwk..
Di tiga minggu liburan berlangsung, aku nggak jalan kemana-mana selain ketemuan makan sama temen SMP di salah satu tempat makan di Depok, main ke mall di Depok, main ke SMA, dan sempet olahraga ngelilingi UI bareng temen. Bahkan main ke kota tetangga  (alias Jakarta) pun tidak. Dan akhirnya di minggu terakhir liburan, diri ini keluar dari Depok jugaaa.. hahahaha! Bahagianya.
Ya, inilah ceritanya.
Ketika sebelum liburan, sebuah rencana jalan bareng temen GM pun terusung. Destinasi awalnya mau jalan yang agak jauh ke salah satu daerah di Jawa Barat (not Bogor). Obrolan berlanjut saat liburan, dan intinya pilihan terakhir jatuh di Bogor juga. Wkwkwk. Nah ke Bogor mau kemana nih? Curug? Bukit? Gunung? Puncak? Danau? Hutan? Kebun teh? Heboh deh nyari tempat. Akhirnya di minggu kedua liburan tercetuslah pilihan fix yaitu TAMAN NASIONAL HALIMUN GUNUNG SALAK. Kalo aku bilang sih, ini paket komplit. Hutan ada, bukit iya, curug banyak. Mantapsoul dah (niru kata-katanya Eli haha). Tanggal main pun udah fix, yaitu di minggu keempat liburan. Ekspektasi aku buat liburan ini gede nih, gasabar menunggu hari itu *ciaahh*
Dari yang awalnya rame 9 atau 10 orang gitu yang bakal ikutan, personil kemudian berkurang, ampe oprec personil lagi, dan jadilah 5 orang yang fix ikut~ wkwkwk..

-Kamis, 9 Februari 2017-
Inilah hari yang ditunggu-tunggu~ Kita janjian kumpul di kampus jam 7 ONTIME! Temen-temen yang lain udah ada di Bogor, jadinya oke aja jam 7. Nah aku, berhubung Rabu malam ada yang harus kulakukan sama ibuku, alhasil aku berangkat hari Kamisnya pagi-pagi dari Depok. Sekitar jam 5 an lah. Perkiraan waktuku sampe di Bogor bisalah pas jam 7, karena perjalanan Depok-Bogor kalau normal tanpa hambatan sekitar 1,5 jam, kalo macet 2 jam.
Pagi-pagi udah heboh. Berangkat naik angkot ke stasiun Depok Baru. Jadi kalau mau naik kereta ke arah Bogor, kalau dari pintu masuk pertama stasiun yang dari arah ITC, itu harus nurunin tangga dulu terus jalan ke seberangnya. Nah aku pikir, lama nih kalo kudu naik-turun tangga. Mendingan nyebrangnya dari luar terus masuk lewat pintu masuk yang kedua. Kayaknya lebih cepet nih soalnya nggak harus naik turun tangga. Betewe aku cuman baru sekali nyobain nyebrang rel dari jalan luar, yang mana harus menelusuri jalan sempit pasar kecil gitu. Jadi aku gak terlalu ingat jalannya. Yaudahlah aku pede aja jalan masuk ngelewatin pasar. Dan sampailah aku di seberangnya. Dan selanjutnya yang kucari adalah mana pintu masuknya?? Yang kutahu, pintu masuk yang kedua itu deket sama tempat parkiran mobil dan motor yang cukup luas.
Aku terdiam sesaat, mana ya jalan ke tempat parkirannya? Kok gaada? Saat itu ku tengah terdiam memandang lurus ke depan, dan yang kulihat hanyalah tempat jualanan di kanan kirinya. Tapi di ujungnya kulihat seperti ada jalan masuk parkiran gitu ke arah kiri. So, dengan pedenya ku jalan terus menuju ujung jalan, melewati jalanan yang cukup becek, berusaha menghindari jebakan maut (alias lubang-lubang di jalanan yang cukup dalam yang bisa bikin sepatuku tenggelam). Pemandangan di kanan kiriku ada yang jualan sayuran, ayam, ikan, dsb. Aku lumayan jalan agak lama, mungkin bisa dibilang menghabiskan waktu hampir 5 menit kali ya, demi menghindari jebakan maut ituu.. Di tengah perjalanan ku melihat kereta arah Bogor melintas. Aku meringis, huh aku harus cepet nih sampe pintu masuk sebelum ketinggalan kereta Bogor yang selanjutnya.
Finally, sampailah aku di ujung. Aku belok kiri, masuk ke pintu kecil, dan aku terdiam bengong. Bener sih ada parkiran, tapi ini cuman parkiran kecil, untuk motor aja pula. Lalu aku jalan terus ada jalan kecil menuju rel. HAH?? Kok REL? Wait! Terus ini mana pintu masuknya??? Ku tengok kanan gak ada. Lalu ku tengok kiri. Aku Shock!!.. Stasiunnya ada jauh di kiri, mungkin dari tempat pertama kali aku terdiam tadi...................Jadi perjuanganku kesini sia-sia? OMG!! Berasa bodoh seketika. Gak habis pikir, kenapa stasiunnya bisa terlewati sejauh ituuu.. Yaudah ku balik lagi ke tempat awal. Pas jalan, kereta Bogor yang selanjutnya melintas, dan aku hanya merelakannya.
        Sampailah aku di tempat awal aku diam. Aku melihat ada jalan. Yang kurasa itu sepertinya bukan jalan ke arah pintu pertama sih. Yaudahlah kuikuti saja. Lagi-lagi dengan pedenya, aku jalan aja melewati tempat jualanan dengan yakin pasti akan menuju pintu kedua. AND YOU KNOW WHAT?? Entah kenapa aku malah kembali sampe di jalan menuju pintu pertama. Geram ku tak habis pikir, terus mana jalan menuju pintu kedua? Bisa-bisanya perempuan berumur 20 tahun tersesat di pasar kecil hanya demi menuju pintu stasiun yang dituju?? Ah sudahlah... ini aneh. Gak habis pikir. Daripada wasting time lagi, yaudah akhirnya aku masuk lewat pintu pertama aja deh. Turun, naik tangga, dan sampailah di seberangnya. Dan tak seperti kereta Bogor yang sebelumnya udah lewat tadi, yang mana jeda antara kereta yang pertama lewat dan kereta yang kedua hanya 5 menit. Aku harus menunggu kereta selanjutnya muncul hampir 20 menitan. Oh daebak! Aku gak percaya dengan kejadian pagi ini. Demi menghindari naik turun tangga, aku wasting time hampir setengah jam!!! Di temani cuaca mendung dan hujan yang tiba-tiba deras dan tiba-tiba reda, aku pun menunggu kereta dengan pasrah.
         Akhirnya tibalah ku di stasiun Bogor jam 7 kurang. Ini mah pasti nyampe kampus lewat dari jam 7. Aku pun ngegrab. Cuaca Depok dan Bogor ternyata sama saja. Hujan reda, tiba-tiba deras. Di tengah jalan sempet hujan deras. Walaupun udah pake jas hujan, tetep aja basah. Selain hujan, perjalanan ke kampus ditemani dengan kemacetan yang luar biasa, sampe motor pun kudu sabar dan pinter-pinter nyalip. Yah, ku tak berkutik. Merasa berdosa nih sama temen-temen yang lagi nungguin aku :””
           Akhirnya aku sampe di kampus jam 8 kurang 15. Dan aku masuk ke dalam mobil. Untung temen-temenku emang baik-baik dah. Mereka woles dengan kengaretanku. Mianhae guysss huhuhu..Oiya jadi jalan-jalan kita ini disponsori oleh mobil sewaan.. Dan sang supir kita adalah Eli. Hehe.. Temen-temenku yang lain ada Upi, Dea, dan Karse. Betewe aku sebenernya bisa bawa mobil, karena selama liburan ini aku ikut kursus mobil. Cuman aku belum mau bawa karena masih ragu sama jaga jarak kanan kiri pas jalan. Yaudah akhirnya percayakan saja kepada Eli karena dia udah terbiasa dengan truk pick up nya selama liburan wkwkwk..
               So, dimulailah perjalanan panjang kita ke TNHGS. Keluar IPB untung belok kanan, bukan belok kiri yang mana bakal bertemu dengan kemacetan. Awalnya mau berpatokan sama Google Map, tapi di Google Map perjalanan ke TNHGS sangat jauh masih 2 jam lagi. Sedangkan kata Eli, perjalanan kesitu nggak sejauh itu kok. Ya akhirnya, ku pun baru tahu kalau pintu masuk TNHGS ada yang dari Bogor, dari Sukabumi, dan dari Banten. Sepertinya yang di Google Map itu bukan yang dari Bogor deh. Wkwkk..
            Tidak jauh setelah keluar kampus, mampir dulu isi bensin. Perdebatan dimulai. Isi berapa nih? 50 ribu? 100 ribu? 150 ribu? Berdasarkan pengalamanku jalan jauh bareng keluarga, biasanya isinya 150 ribu. Sedangkan perjalanan kita ke TNHGS nggak jauh-jauh amat. Yaudah ku bilang aja 100 ribu. Deal. Tapi ternyata hasil dari ngisi 100 ribu, cuman dapat 4 strip bensin.  Ya bisa cukuplaaah. Lanjut jalann..
           Mungkin sekitar 30 menitan, kita menemukan plang “kawasan wisata Gunung Endah Salak belok kiri”. Kita pun masuk jalan belok kiri. Selanjutnya, lurus terus menyusuri jalan dan mengandalkan tanya orang sekitar. Ada sesuatu yang baru yang bikin aku terpana. Jadi di sepanjang jalanan itu di kanan kiri ada banyak pom bensin kecil yang dinamakan PERTAMINI. Tempatnya kecil tapi bener-bener didesain kayak pom bensin, yang ada mesin digitalnya, ada selang bensin juga. Wow, percayalah aku baru pertama kali lihat itu. Selama ini, walaupun jalan sampe ke desa-desa di Jawa, aku gak pernah nemuin PERTAMINI. Aku bahagia sendiri ngeliatnya wkwk.
            Setelah kira-kira 1 jam nanjak jalan sempit dan cukup berkelok-kelok, sampailah kita di pintu masuknya. Di pintu masuk ditagih 35 ribu, terus bisa dinego jadi 30 ribu deh. Wkwk.. Non tiket! Kalau kata Eli *again* kalau kawasan wisata masuknya gak pake tiket, maka uangnya bakal masuk ke kantong (buat si orang yang nagihin), bukan masuk ke pemda. Hmm okee..
             Yaudah kita jalan terus. Ikutin jalan tanpa tujuan pasti. Selama jalan, beberapa kali di kanan kiri jalan kita menemukan plang menuju ke curug yang berbeda-beda. Tapi kita tetep jalan terus. Di pikirin aku tuh harusnya ada gitu satu tempat utama yang mana bisa menikmati pemandangan dengan berjalan kaki. Tapi kita tidak menemukan tempat tersebut.. Kita pun berhenti di satu warung. Awalannya kita beli minum, setelah itu kita nanya-nanya. Hehe.. Ya berdasarkan jawaban yang didapat, di kawasan wisata ini paling ada curugnya yang banyak, ada kawah ratu, dan ada hutan pinus. Tapi untuk menuju curugnya itu rata-rata harus berjalan kaki yang cukup lama. Apalagi menuju kawah ratu yang bakal menempuh waktu sekitar dua jam berjalan kaki dan harus ada yang mandu. Dan kita pun tertarik mencoba ke hutan pinusnya dulu. Kita pun melanjutkan perjalanan.
          Kita belum menemukan tempat wisata hutan pinus yang dimaksud sama bapak-bapak di warung tadi. Tapi kita menemukan spot bagus buat foto. Hehe. Yaudah kita berhenti di pinggir jalan, keluar, dan foto. Tetiba datang seorang wanita yang cukup tua memakai jas hujan, menenteng bakul besar, menawarkan jualannya yaitu nasi uduk dan gorengan. Berhubung kita udah pada sarapan, terutama aku yang baru saja tadi sarapan di mobil, kita pun membeli gorengannya aja. Aku ngeliatnya nggak tega, beliau jalan sendirian cukup jauh menyusuri jalanan, sambil membawa jualanan dan berharap ada yang membelinya. Namun, memang kondisi saat itu , dengan hujan yang tetiba reda tetiba deras, dan suasananya cukup sepi, karena mungkin ini hari biasa, dan masih pagi juga.
            Hujan mulai deras kembali. Belum puas kita foto-foto, tapi harus segera masuk ke dalam mobil kalau tidak mau kehujanan. Setelah istirahat makan gorengan dan makanan kecil yang dibawa anak-anak, kita melanjutkan perjalanan. Hujan tidak kunjung reda. Yang ada malah semakin deras, dan jalanan semakin berkabut. Di tengah jalan, kita menemukan kawasan hutan pinus yang dimaksud bapak-bapak tadi. Betapa sedihnya kita karena kita gak bisa jalan-jalan disitu, karena hujan yang sangat deras. Yaudah cus kita jalan terus. Dan entah gimana jalanan yang tadinya nanjak terus, sekarang justru banyak turunan. Sepertinya memang menuju ke arah pintu keluar. Jadi memang disini ada dua pintu masuk/pintu keluar. Kita jalan terus dan sampailah di pintu keluarnya.....
              
              Udahan? Seriusan? Gitu doang?
                
         Ya gimana? Hujan benar-benar deras dan keliatannya awet. Gak puas. Tapi mau bagaimana lagi. Jadi kita wisata mobil doang nih? (Jalan-jalan pake mobil doang!)  -_-
           Yaudah kita keluar dari kawasan wisata. Kita melalui jalanan turunan. Di jalan kita sambil berpikir dan mencari-cari destinasi mana nih yang bisa kita tuju selanjutnya. Bahkan kita sampai berpikir untuk makan dan nonton aja. Kita sempat berhenti sejenak di Alfamart menumpang kamar mandi, sambil memikirkan tujuan selanjutnya. Sungguh gak percaya. Beneran nih? Jauh-jauh kesini, ujung-ujungnya masa cuman main ke kota buat makan dan nonton?
           Emang bapak yang satu ini mantaplaaa.. Masih di tengah jalan kita melewati turunan, entah bagaimana cuaca pun mencerah. Ya masih mendung sih, tapi benar-benar tidak hujan sederas tadi, paling rintik-rintik kecil. Muncul celetukan Eli, “gimana kalau kita naik lagi alias balik lagi ke TNHGS?” Padahal kita udah turun jauh banget loh.  Awalnya mah bercanda, tapi didorong rasa penasaran dan ketidakpuasan, kita benar-benar putar balik dan NAIK KEMBALI!! Huahahahaa.. Kondisi bensin tersisa 2 strip. Yaudah laa selow, ada PERTAMINI ginii... wkwkwkwwk.
           Waktu menunjukkan pukul setengah 12. Kita mulai jalan naik kembali. Jalan naik terasa lebih lama ya dibanding jalan turunnya. Semakin naik, memang terlihat semakin mendung, tapi gak ada tanda-tanda bakal hujan deras kayak tadi. Sekitar 45 menit perjalanan naik kembali, sampailah kita kembali di pintu masuk alias pintu dimana tadi kita keluar dengan kondisi bensin tersisa 1 strip. Wkwkwk...  Konsekuensi dari balik kembali, ya kita harus siap mengeluarkan uang buat tiket masuk lagi. Nah, sempet bikin kaget karena kita ditagih 60 ribu alias 10 ribu per orang. Lah?? Wong tadi aja di pintu masuk yang satunya kita cuman diminta 30 ribu, kenapa disini sekarang jadi 60 ribu? 2 kali lipatnya cuy! Merasa gak terima diperlakukan berbeda, kita sedikit debat, dan berhasillah kita masuk dengan harga 30 ribu. Hehehe.. Tapi tetep aja di pintu masuk yang ini, tidak dikasih tiket masuk~.
             Tak jauh dari pintu masuk ada kawasan camping ground gitu. Kita berhenti disitu. Cek kawasan, istirahat sejenak, dan sholat.

*sedikit flashback*
Ketika selesai foto-foto di spot awal yang tadi udah kuceritakan, kita kembali melanjutkan perjalanan. Aku yang duduk di kursi kiri depan, tetiba melihat sesuatu yang kecil berwarna merah-cokelat bergerak-gerak di dekat jendela di sampingku. Kuperhatikan terus makhluk kecil itu dan aku terpana dan berteriak dalam hati, “itu kecoak kecil! Tapi bener gak ya itu kecoak?” Yaudah aku heboh sendiri aja sambil berusaha menangkap si makhluk kecil itu dengan tisu. Tapi aku gak berhasil menangkapnya. Aku teriak heboh di dalam mobil kalau ada hewan kecil, tapi aku gak bilang kalau itu seperti jelmaan kecoak. Ya hanya dugaanku saja. Aku berharap itu bukan kecoak!

*kembali ke cerita utama*
Setelah selesai sholat, kita buka pintu mobil, dan tralala..
Banyak makhluk kecil itu berkeliaran... Ada yang ukurannya sebesar yang kuliat pertama kali, ada juga yang masih sangat kecil hingga terlihat seperti semut biasa. Untungnya gak ada yang besar. Siapapun itu ada yang nyeletuk, “itu kecoak!!” Hmmmm... WHAT?!? Jadi bener dugaanku. Itu bener-bener kecoak guys. OMG. Jadi selama perjalanan ini kita ditemani dengan makhluk-makhluk kecil yang bersembunyi di seluk beluk dalam mobil?? Alhasil kita langsung menyelamatkan tas kita dan makanan kita takut-takut didekati oleh sang makhluk kecil tersebut. Abis penemuan tralala itu, muncul penemuan lain. “Eh itu ban kiri kempes?” jeng jeng... Yap ban kiri belakang mobil kita terlihat kempes, entah karena bocor atau hanya kurang angin. Kita pun ada dalam kondisi nggak membawa ban cadangan. Awalnya walaupun dengan kondisi bensin yang tersisa 1 strip, kita fine-fine aja bakal naik mengunjungi hutan pinus dan mungkn curug. Tapi dengan kondisi ban yang seperti itu, dan mengingat jalan yang bakal dihadapi sangat berbatu-batu, maka kita pun mengurungkan niat. Dan berakhir dengan hanging around the camping ground area. Untungnya ada spot bagus buat foto foto dan selfie selfie cantik walaupun tidak banyak. Hehehe ..
       Ya selesai foto-foto kita pun balik ke mobil dan jalan kembali pulang. Setengah perjalanan pulang aku mencoba memberanikan diri membawa mobil dengan syarat Eli harus terus stay ngawasin wkwkwk.. Well, aku jatuh cinta dengan mobil avanza yang kita pakai ini, soalnya terasa ringan dibawa, perpindahan gigi gak terlalu rasa, dan permainan kopling gasnya gak terasa kaku,  gak seperti mobil yang kupake pas kursus, apalagi mobil kijang di rumah. Wkwkw.. Alhamdulillah kita sampe di kampus kembali dengan selamat sekitar pukul 3 sore. Well, bensin yang tadinya tersisa 1 strip, hingga akhir perjalanan malah tersisa jadi 2 strip. *Untung tadi gak ngisi 150 ribu kan wkwkwk*
         Terakhir, karena masih kurang puas, setelah sholat, balikin mobil, makan, kita pun motoran ke BTM (Bogor Trade Mall). Ngapain? Ya ngapain lagi? Nonton film hahahaha...

Liburan ini sangat sederhana bukan? Yup sederhana, tetapi seribu cerita..

Jadi hikmah yang bisa ambil, kalau mau liburan bikin plan A, plan B, plan C kalau perlu sampe plan Z. Dann berhati-hatilah dalam menyewa mobil. Jangan sampe kendaraan malah mengganggu kenyamanan liburanmu, wkwkwk..

Lumayan cerita menyambut semester 6 yang sudah H-1.

At last, Bye bye holiday.


Terima kasih Upi biskuitnya, Dea risolnya, Karse kameranya, dan Eli si pembawa mobil dengan gigi netral! Hehe :3

Dari kiri - belakang - kanan - depan: Upi, Eli, Karse, aku, dan Dea