Ini cerita gue, dan setiap orang punya ceritanya masing-masing ^^
SMAN 1 Depok alias Smansa. Disini tempat dimana hidup gue berubah. Gue lupa apa alasan gua dulu memilih masuk sekolah ini. Kata orang-orang sih, SMAN 1 Depok itu sekolah favorit. Iya sih benar, namun yang pasti sekolah ini bisa dibilang agak lumayan jauh dari rumah gue. Gue juga lupa kenapa gue tetap mau melanjutkan pendidikan di sekolah ini padahal ada 2 SMA negeri yang juga bagus berada sangat dekat dengan rumah gua. Ya, begitulah. Gue mungkin hanya mengikuti arus. Dulu, kakak gue juga sekolah di Smansa. Namun, yaudah itu aja yang gue tau. Gue sama sekali gak tau seluk beluk kehidupan di Smansa melalui kakak gue. Serius. Mungkin dulu gue gak kepo dan terlalu cuek, hahaha -_-. Pokoknya, gue disuruh sama orang tua buat nyoba ikutan tes masuk Smansa. Yowes, gue jalani. Gue pun berusaha dengan seserius dan semampu gue. Gue juga berdoa agar diberikan jalan terbaik. Alhamdulillah, akhirnya gue pun diberikan kesempatan melanjutkan sekolah di Smansa ini.
Smansa itu nggak kayak waktu gue SMP dulu. Yang gue ingat dulu waktu SMP, kehidupan sekolah gue ya gitu-gitu aja. Pulang sekolah, kalau gak ada tugas kelompok, ya pulang ke rumah. Di sekolah, gue ikut ekstrakuliker, tapi nggak aktif. Mungkin karena sahabat-sahabat di sekeliling gue juga bukan termasuk yang aktif di sekolah, jadinya gue keikutan deh. Pokoknya biasa aja deh. Belajar di sekolah, hmm, biasa juga. Sering dapet nilai bagus, itu bukanlah hal yang terlalu sulit. Waktu luang banyak. Asalkan ada kemauan rajin belajar, pasti bisa deh mendapat nilai akademik seperti yang diharapkan. Oiya gue juga inget. Waktu dulu SMP, saat ulangan gue mencoba untuk bener-bener gak nyontek lho *serius*. Dan ini memang cukup sulit, apalagi kalo nyonteknya gak disengaja, misalnya gak sengaja ngedenger jawaban teman yang baru aja nanya dari teman lain. Kalau udah gitu rasanya setan udah mulai menghantui pikiran gue untuk mengubah niat awal gue untuk gak nyontek, huuuuft. Nah yang jadi poin disini adalah ini, usaha gue untuk gak nyontek atau terpengaruh temen. Semakin kesini, gue mulai berpikir. Jalan gue untuk masuk Smansa ini, bukan sebatas doa dan usaha dalam bentuk belajar. Tapi bisa aja ada faktor X lainnya. Dan poin yang gue maksud ini bisa jadi salah secuil dari faktor X yang dimaksud. Gue memang agak sedih saat melihat nilai gue lebih kecil dari nilai teman gue yang menyontek. Tapi yakin deh. Allah benar-benar melihat segala usaha kita dan mendengar doa kita. Saat itu gue memang sedih, tapi gue pun bangkit. Dan bisa aja nih, ternyata Allah pun menjadikan usaha gue itu sebagai salah satu faktor X yang dimaksud. Pokoknya resepnya itu deh. Niat, ikhtiar, do’a, dan faktor X. ^__^
Balik lagi. Awal masuk Smansa......... Gue dan teman-teman disuguhi MOPD yang “luar biasa”. Disitu gue benar-benar disadarkan apa sih sebenarnya kelemahan gue. Kemudian, gue dan teman-teman disadarkan tentang nilai-nilai kehidupan berharga yang harus kita punyai dan kita terapkan dalam kehidupan. Yaah, akhirnya mulalilah gue menjalani kehidupan Smansa yang sebenarnya. Smansa itu keras, guys! Wkwk... Bayangin aja, saat disitulah lo mulai beradaptasi dengan lingkungan baru, saat disitulah lo mendapat “kejutan” : mendapat nilai 4 dalam suatu pelajaran untuk yang pertama kalinya. Bagi gue itu sesuatu yang sangat sangat sangat bikin gue shock dan ngedown seketika -____-. Di saat gue dapat nilai 4, teman-teman yang lain ada yang dapet 9. Gue gak belajar kali? Belajar koook, tapi menurut gue soalnya emang sulit. Terus kok teman-teman yang lain bisa dapet nilai bagus? Auuu deh :”( . Gimana sih rasanya saat lo mengalami kegagalan dalam pelajaran yang paling lo sukai saat dulu saat SD dan SMP? Pokoknya entah kenapa di Smansa ini gue sering mengalami remedial *gak patut dicontoh*. Disini gue mulai mengerti kekurangan gue. Gue termasuk orang yang harus berusaha keras dalam memahami pelajaran. Gue pun menyadari kalau teman-teman di Smansa itu banyak yang cepat memahami pelajaran, walaupun tak perlu usaha ekstra. Gue belajar menerima perbedaan nyata ini yang ternyata tak pernah gue sadari selama gue SD maupun SMP, guys. Nilai akademik yang bagus memang bukan segala-galanya buat gue, tapi hal ini merupakan salah satu hal yang bisa gue persembahkan untuk orang tua gue. Gue sangat bersyukur karena selama gue sekolah, gue gak pernah dituntut untuk mendapat nilai yang bagus, gue juga gak pernah dimarahi kalau gue dapat nilai jelek. Gue bersyukur karena gue ternyata punya kesadaran untuk belajar dengan sebaik-baiknya tanpa tekanan dari orang tua.
Waktu. Salah satu hal yang selalu terpikirkan semenjak masuk Smansa. Gue dituntut untuk mengatur waktu yang ada dengan sebaik mungkin. Tugas sekolah banyak dan macem-macem, presentasilah, bikin makalah lah, menggambar lah, dan lain-lain. Terus, ujian sehari bisa 4 pelajaran *serius ini pernah kejadian lho -,-*. Tugas kelompok bejibun, padahal pulang sekolah udah sore banget. Belum lagi kalo ada yang les, ekskul, rapat, dan lain-lain. Nyampe rumah selalu malam, belum lagi ngebantu orang tua. Terkadang setelah itu, mata pun tak bisa berkompromi untuk diajak belajar dan ngerjain PR. Akhirnya diri pun tidur, padahal besoknya ujian menunggu. Besoknya pagi-pagi belajar ngebut, di perjalanan ke sekolah naik angkot. Terus, di sekolah curi-curi waktu ngerjain PR. *Edisi Curhat*. Kedengarannya serem. Tapi kalau diinget-inget seru juga sih, wkwkwk. Pokoknya selama di Smansa gue belajar untuk berkorban demi sesuatu. Di Smansa, gue memilih untuk mengikuti organisasi di sekolah yang tentunya menyita banyak waktu. Kalau gue pribadi, gue belajar untuk menggunakan waktu luang yang ada selama di sekolah untuk menyelesaikan suatu hal atau mengerjakan hal-hal lain yang emang menurut gue perlu diselesaikan saat itu juga. Di saat jam kosong, di saat teman-teman lain main game, nonton, ngobrol, ataupun tidur, gue malah menyicil ngerjain tugas yang deadlinenya masih lama banget, atau belajar. Gue bukannya rajin. Tapi itu gue lakuin karena gue tau waktu yang disediakan terbatas. Gue juga tau kelemahan gue. Gue yang telah memilih untuk mengikuti organisasi,dan juga beberapa ekskul, maka gue pun harus menerima konsekuensinya, banyak kegiatan, banyak rapat, banyak tanggung jawab yang perlu diselesaikan. Gue tau kalau malam hari, kalau gue sudah kecapekan, gue tidak bisa fokus belajar, dan gue pun belum tentu bisa fokus belajar pada dini hari. Ya begitulah, belajar menghargai waktu. Belajar menahan keinginan untuk ikutan bersantai ria. Gue pernah mengalami di saat gue ingin bergabung dengan suatu kelompok, tapi gue gak berani, dan gue merasa tak cocok dengan obrolan yang sedang diobroli. Di saat itu gue sering menghindar. Dan gue butuh waktu yang cukup lama untuk menyadari kalau apa yang gue lakuin ini benar-benar salah. Dari situ gue belajar, pentingnya merangkul satu sama lain. Gue belajar bahwa saat orang menghindar untuk bergabung dengan teman-temannya yang merupakan teman seperjuangan dalam suatu organisasi, itu bukan berarti dia tak mau bergabung, tapi itu karena orang tersebut memiliki masalah yang sama seperti yang gue rasakan.
Di Smansa, gue benar-benar merasakan saat-saat dimana menjadi ‘adik’ yang sangat diperhatikan, menjadi ‘kakak’ yang mempunyai adik baru, dan menjadi ‘adik’ yang kehilangan ‘kakak’ yang disayang. Di Smansa ini gue merasa sangat dekat dengan kakak kelas dan adik kelas udah kayak teman sendiri, malah udah kayak saudara sendiri. Gue pernah merasakan menjadi ‘adik’ yang mempunyai ‘kakak’ yang hebat, sangat membimbing, dan sangat peduli dengan ‘adik’nya. Begitu pun saat gue menjadi ‘kakak’, gue pun belajar untuk menjadi ‘kakak’ yang baik untuk ‘adik’nya. *aseeeek*
Smansa itu memang hebat. Smansa itu tak pernah lepas dari suatu event. Selesai suatu event, muncullah suatu event seperti tak pernah habisnya. Di Smansa ini, gue benar-benar bertemu dengan banyak orang unik, hebat, dan kreatif. Gue sangat merasa bersyukur. Dan Smansa ini buat sebagian orang, kehidupannya berubah 180 derajat. Wkwkwkwk. Termasuk gue. Kurang lebih sudah tiga tahun gue menjalani hidup di Smansa. Sekarang gue udah lulus, hehe. Oiya, ngomongin tentang kelas 12, tadinya gue pikir, kehidupan kelas 12 bakal flat karena akan dipenuhi dengan yang namanya belajar dan ujian. Ternyata tidak. Banyak keseruan selama kelas 12, dan menurut gue, di kelas 12 ini banyak banget “ujian” kehidupan yang gue dapati dan banyak pula pelajaran kehidupan yang gue alami, itulah yang bikin kehidupan kelas 12 ini nggaklah flat. Ini nih ceritanya yang gue tulis beberapa waktu yang lalu..
********************************************************************************************************
Tahun ke-17 aku berada. Tak kusangka di tahun yang menurut sebagian orang, merupakan tahun yang yang ‘wow’ dan spesial ini, aku pun mengakuinya kalau tahun ke- 17 ini merupakan tahun yang paling membuat hidupku ‘wow’ dibandingkan 16 tahun sebelumnya.
Now, I’m here. 17 years old. Last year of high school.
Untuk menjadi individu yang baik, kita memang perlu mengevaluasi diri setiap saat, seharusnya. Tetapi kuakui itu tidaklah mudah. Terkadang saat kita yakin bahwa kita benar-benar telah menjadi individu yang baik dan semakin baik dari hari ke hari, tanpa kita sadari ternyata apa yang kita yakini tak berjalan dengan seperti yang kita pikirkan.
Aku sangat bersyukur masih diberikan kesempatan merasakan umur 17 tahun. Semua diawali dengan kenyataan bahwa sebagai siswa, inilah saatnya, setahun terakhir masa-masa di SMA. Diawali dengan tujuan dan tekad : Serius belajar, UN dan PTN ada di depan mata.
Aku merupakan seorang siswa SMA yang termasuk memiliki banyak kegiatan. Ikut organisasi, ikut kegiatan ekstrakulikuler, menjadi panitia sana sini. Pokoknya sibuk. Aku berpikir, ini semua merupakan hal yang positif buat aku, dengan begitu kemampuanku pun dapat berkembang dalam hal non-akademis. Memang semua itu butuh pengorbanan. Pulang ke rumah sering malam. Awalnya aku berpikir, ini tak terlalu bermasalah selama aku masih bisa mengatur waktu belajar.
Saat kelas 12 ini, semua aktivitas itu perlahan mulai tak lagi dilakukan, yang ada adalah fokus belajar. Aku pun mulai ikut bimbingan belajar, dan pulang ke rumah sudah cukup malam, dan seringkali kelelahan. Hal itu yang membuatku susah untuk memulai belajar lagi setelah pulang sehabis bimbingan belajar.
Saat kelas 12 ini, aku merasa ada yang salah, terkait dengan masalah belajar. Aku akui, kelas 12 ini, aku tidak mudah mengerti pelajaran seperti saat kelas 10 dan kelas 11. Menurutku, sebagian besar materi pelajaran kelas 12 menuntut waktu yang lebih banyak untuk mencernanya, memahaminya, dan menghafalinya untuk jangka waktu yang panjang. Ditambah lagi dengan beberapa guru yang memang jarang masuk ke kelas, dan sekalinya masuk, itupun tidak benar2 mengajar secara keseluruhan. Selain itu, memang sekitar 3 bulan pertama di kelas 12, aku masih sibuk melakukan serangkaian kegiatan yang memang cukup menyita waktu dan sedikit demi sedikit aku menyadari dampaknya terhadap proses belajarku. Aku benar- benar merasa diuji. Tak seperti kelas 10 dan kelas 11, walaupun segudang aktivitas kuhadapi, namun aku bisa menyeimbangkan aktivitas belajarku. Tapi sekarang tidak. Aku menghadapi kondisi yang berbeda dengan yang sebelumnya.
Aku mulai merenung banyak hal. Aku pun mulai sering berpikir, “Ini aku, aku tidak sama kayak mereka, aku harus berjuang lebih.” Aku sadar kalau aku termasuk orang yang butuh waktu yang lebih banyak dibanding teman-teman lain dalam hal menyerap materi pelajaran. Aku sadar, di saat teman-teman yang lain pulang ke rumah atau pergi ke bimbingan belajar, aku belajar ikhlas untuk mengorbankan itu semua demi menyelesaikan beberapa amanah dalam suatu aktivitas. Aku sadar kalau aku benar-benar harus memanfaatkan waktuku yang tersedia di sekolah dengan sebaik-baiknya agar aku dapat “menjadi seperti mereka”. Bukan mauku, belajar di saat-saat teman yang lain bermain game. Bukan mauku, belajar di saat-saat teman yang lain mengobrol dengan riang di jam pelajaran kosong. Aku sadar, aku memiliki kondisi yang berbeda dengan teman-teman yang lain.
Aku tak bermaksud egois. Rasanya aku ingin sekali minta maaf ke seluruh teman-temanku bila mungkin aku terlihat acuh. Tapi, bukan berarti aku berhenti menyapa teman-teman dan orang-orang di sekelilingku. Aku senang menyapa orang lain, dengan menyapa, aku merasa hatiku tenang dan senang aja.
Aku bukan orang yang hebat, yang selalu mempunyai mood dan semangat yang tinggi setiap saat. Sekali lagi aku hanya sadar, sadar akan kondisi yang kuhadapi. Aku hanya berusaha kuat untuk melawan moodku yang naik turun.
Aku punya suatu keinginan kuat dalam hati. Aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku pada orangtuaku, yang aku pun tidak tahu seberapa besar kesalahanku itu. Tapi satu hal yang kuingat, adalah selama 2 tahun kebelakangan, hingga saat ini pun, aku sering pulang telat, dan waktuku bersama orangtua sangatlah sedikit. Sedih, saat sampai di rumah, aku menemukan orangtuaku sudah tidur.
I love them. I have to do my best ALL i can do now for them. Hanya itu. Just that.
Selain itu, aku merasa mendapat banyak pencerahan dalam hal beribadah. Pokoknya aku tersadari untuk tak sekedar menjalankannya, tapi benar-benar merenungi seberapa sudah berkualitasnya ibadahku. Begitupun saat aku melakukan sesuatu, aku benar-benar berusaha melihat apakah yang kulakukan ini benar atau tidak sebelum aku melakukannya.
UN. Dua kata. Menantang. Menakutkan. Benar-benar dibutuhkan perjuangan untuk menghadapi 3 hari masa penentuan itu. Belum lagi ditambah ujian-ujian lainnya seperti ujian sekolah dan ujian praktek. Lelah, bosan, malas sering muncul di titik-titik kejenuhan. Belum lagi rasanya niat kita benar-benar diuji. Memang sih benar, kita belajar sekeras ini untuk mendapat nilai yang memuaskan dan mencapai target yang diharapkan, tapi rasanya sayang sekali bila kita melupakan niat belajar untuk beribadah kepada Allah. Apalagi disaat kita belajar materi yang sama berpuluh-puluh kali, tak jarang dari kita mengeluh.
Nah, ini dia. Mengeluh. Hal ini merupakan pertanda kalau rasa syukur kita berkurang. Saat di titik jenuh, saat keimanan kita turun, di saat itulah kita menjadi rentan. Pesimis, pikiran negatif, galau, semuanya bercampur aduk. Belum lagi ketika kita menghadapi kegagalan. Pokoknya serangkaian kegiatan selama kelas 12 ini benar-benar menguji diriku, terutama kesabaran diri.
Entah kenapa, di kelas 12 ini, di umur 17 tahun ini, perlahan pikiranku mulai tertancap dengan otomatis, kalau tugas manusia tuh cuma ikhtiar, tawakal, dan selalu berprasangka baik. Udah. Kita tak berhak menyalahkan orang lain yang telah membuat kita seperti orang yang dizhalimi/dirugikan, padahal kita blm tentu diperlakukan seperti itu. Kita kerap kali menyalahkan para pemimpinnya. Padahal kita belum tentu bisa jadi lebih baik dari para pemimpin itu. Yang dapat kita lakukan, ya, ambil sebanyak-sebanyaknya hikmah dalam setiap detik kejadian yang telah kita lalui. Kalau perlu berpikir secara jangka panjang bagaimana supaya kita menjadi orang yang di masa depan akan memperbaiki segalanya menjadi lebih baik.
Sekarang aku dan teman-teman, sedang berjuang keras untuk nanti menghadapi ujian masuk PTN yang kita inginkan. Sebuah jalan yang akan nantinya menghantarkan kita ke impian kita masing-masing. Saat ini aku dan beberapa teman sedang melakukan aktivitas, latihan untuk menampilkan sebuah persembahan di acara perpisahan nanti. Semoga semuanya berlangsung dengan lancar dan seluruh usaha dan perjuangan kita akan berbuah manis. Semoga aku pun tidak lagi mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama, atau paling tidak dapat meminilasirnya.
********************************************************************************************************
Alhamdulillah, di akhir kelas 12 ini, gue mendapatkan sesuatu yang tak disangka-sangka. Gue menjadi salah satu dari kurang lebih seperempat murid Smansa yang berhasil masuk PTN melalui jalur SNMPTN atau jalur undangan, dimana bisa masuk PTN yang diinginkan tanpa melalui tes. Alhamdulillah, gue pun diterima di Ilmu Gizi IPB ^_^. Sekali lagi ini bukan semata-semata niat, usaha diri sendiri, do’a , tetapi karena mungkin ada faktor X yang gue gak tau apa aja itu, dan banyak do’a dari orang lain. Gue yakin teman-teman gue yang lain juga pasti bisa menggapai impian yang diinginkan dengan jalannya dan ceritanya masing-masing. Kan Allah sudah mempersiapkan jalan yang terbaik buat kita ;) .*Haphaaaap* . Hmmm, selanjutnya, gimana ya cerita kehidupan gue di IPB? Semoga di masa depan nanti gue bisa menjadi seseorang yang bisa bermanfaat buat orang banyak yaaa, Aamiin :)