Amanah
tidak jatuh pada pundak yang salah.
Allah tidak selalu memberikan apa yang
kita mau, tapi Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan. J
Aku seorang mahasiswi IPB yang baru saja
melewati 1 tahun kehidupan disana yang menurut orang merupakan masa-masa paling
indah untuk dijalani, TPB, Tingkat Persiapan Bersama. Alhamdulillah hasil dalam
1 tahun ini, aku bisa mendapat nilai IPK yang hampir mendekati sempurna, dan
mengikuti kegiatan-kegiatan yang setidaknya tidak membuatku sebagai mahasiswi
kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang), tapi tidak juga dibilang sebagai
aktivis seperti ketika SMA dulu. Selama 1 tahun ini, aku juga merasa terlindungi
oleh kehidupan asrama yang pokoknya sangat menjagaku.
Masuklah aku pada kehidupan kuliah yang
sesungguhnya. Aku mulai beradaptasi kembali, beradaptasi tinggal sendiri di
kosan, beradaptasi menjalani kehidupan sebagai mahasiswi Fakultas Ekologi
Manusia, dan beradaptasi menjalani kehidupan sebagai mahasiswi Departemen Gizi
Masyarakat.
Semester 3 pun kulalui. Betapa aku
mengalami kekagetan. Sejak masuk departemen aku memberanikan diri untuk mencoba
bergabung dengan kegiatan-kegiatan baik di tingkat departemen dan fakultas. Aku
mengikuti kepanitiaan di departemen yaitu Food Fair dan Farewell Party
HIMAGIZI. Lalu aku bergabung dalam kepanitiaan PEMIRA FEMA. Ternyata benar,
kehidupan di departemen tak seindah TPB. Aku mulai menyesuaikan diri dengan
berbagai tugas laporan, kuliah, dan praktikum yang menantang.
Aku mengalami masalah. Aku merasa
memiliki pola belajar yang salah. Di kosan, diriku lebih rentan, tak seperti
ketika di asrama. Bukan karena di kosan aku jadi seperti bebas melakukan apa
saja. Tapi yang menjadi masalah adalah kesendirian dan kesepian yang membuatku
rentan menjadi malas dan galau. Semangat belajarku menjadi naik turun. Aku jadi
lebih sering menunda. Sungguh aku rindu kehidupan sekamar berempat ketika di
asrama. Sungguh aku rindu kehidupanku ketika di rumah, dimana aku bisa
mendengar suara-suara berisik dari orang-orang serumah. Suasana yang ramai dan hidup merupakan motivasiku untuk bisa bertahan
dan menyelesaikan segala hal. Pada akhirnya apabila aku sudah merasakan
berbagai ketidakberesan, aku cenderung menenangkan diri dengan tidur. Hal itu
sebenarnya sangat tidak baik, karena itu berarti aku menunda segala hal yang
membuatku kelimpungan di akhir.
Aku tahu aku salah. Aku tahu aku sedikit
melupakan tujuanku kuliah. Aku tahu aku sering mengesampingkan cita-citaku di
masa depan. Hingga akhirnya aku berusaha keras untuk berubah. Selalu memikirkan
orangtua, dan memikirkan kehidupan masa depan yang kucita-citakan. Tapi tetap
semuanya telah berjalan. Seperti yang sudah kubilang. Ketika aku menunda, maka
aku akan kelimpungan di akhir. Bersenang-senang di awal, bersakit-sakit di
akhir. Seperti itulah gambaran kehidupanku di semester 3.
PEMIRA FEMA. Dari situlah semua berawal.
Kepanitiaan ini berhasil mengasah kembali skillku dalam berorganisasi. Aku
merasa nyaman disini. Aku merasa nyaman dengan teman-teman dan kakak-kakak yang
bergabung dalam kepanitiaan ini. Di PEMIRA ini aku benar-benar merasakan yang
namanya ditunjuk dan dipercayakan secara langsung untuk melakukan sesuatu,
sesuatu yang jarang aku lakukan sehingga membuatku deg-degan, dan sesuatu yang benar-benar
menguji keikhlasanku dan seberapa siapkah aku untuk berkorban.
Mungkin aku mau sedikit memperkenalkan sebuah
mata kuliahku di semester ini, yaitu fisman (fisiologi manusia). Mata kuliah
yang menarik, tapi praktikumnya benar-benar menguji mental seseorang haha. Mau
atau tidak kamu harus bertahan untuk mempelajari aplikasi IP WEB yang mengupas
lengkap mata kuliah ini dan berisi FULL BAHASA INGGRIS. Mempelajari IP WEB ini menurutku
membutuhkan waktu khusus karena tidak mudah. Bahkan aku sendiri, dengan
kelemahan yang kumiliki, aku sadar diri, dan aku harus menulis seluruh isi IP
WEB itu dulu sebelum kupelajari. Nah again. Intinya aku baru sadar di
pertengahan jalan. Aku tidak benar-benar belajar IP WEB ini dengan sepenuh hati
dari awal. -,-
Hari H PEMIRA. Aku dan seorang kakak
yang berbeda 2 tahun (yang dia ternyata kakak asprak fisman ._.) ditunjuk sebagai perwakilan dari panitia PEMIRA FEMA
untuk melakukan perhitungan suara di KM
(tingkat IPB). Guess what! Perhitungan suara itu dilakukan diatas jam 9
malam, kemungkinan berakhir lewat tengah malam, dan besoknya adalah ujian
presentasi IP WEB fisman 3 atau 4 bab! Pelajaran yang cukup kutakuti ini
benar-benar menguji mentalku banget. Di saat anak-anak gizi lainnya belajar,
aku melakukan hal lain. Aku khawatir karena nilai-nilai praktikum fismanku
tidak terlalu bagus, dan aku gak mau besok aku mendapatkan kembali hasil yang
tidak memuaskan. Mana aku tidak terlalu mengerti bagian-bagian bab awal T_T.
Bagaimanapun aku tak bisa menyia-nyiakan
amanah yang datang padaku. Yasudah aku jalani saja dengan tenang. Dan benar,
sekitar jam setengah 1 an dini hari aku baru balik ke kosan. Apakah aku
langsung belajar? TIDAK! Aku capek dan aku tidur! Alhamdulillah aku terbangun
jam 3an. :”””). Hingga akhirnya ujian presentasi dilaksanakan. Alhamdulillahnya
lancar. Aku dapat bagian yang harus dipresentasikan yaitu bagian yang cukup
kukuasai. Sungguh aku bersyukur banget.
Yah. PEMIRA inilah yang kemudian
mengarahkanku pada jalanku yang selanjutnya. Aku mendaftar magang BEM, namun
ditolak. Aku pun dilanda kebingungan untuk memilih daftar DPM atau HIMAGIZI. Jujur
aku tidak pernah kepikiran untuk bergabung dengan DPM yang mirip dengan MPK
ketika SMA dulu. Aku merasa cukup 2 tahun sebagai MPK, dan tidak mau
melanjutkan di DPM. Namun, kembali aku dipercayakan oleh seseorang yang kukenal
baik dan hebat di kepanitiaan PEMIRA untuk bergabung di DPM. Bimbang. Aku
menimbang-nimbang dengan sebaik-baiknya. Entah kenapa pula, aku merasa
ditunjukkan jalan oleh Allah, melalui beberapa teman TPB yang berhubungan
dengan DPM tiba-tiba bertemu secara kebetulan denganku.
Bismillah, akhirnya kutetapkan
pilihanku. Aku daftar DPM. Itu artinya aku siap untuk menghapus keinginanku
untuk bergabung dengan BEM, HIMAGIZI, dan berbagai kepanitiaan yang dibawahi
oleh BEM dan HIMAGIZI. Serangkaian persyaratan kupenuhi. Wawancara kujalani.
Alhamdulillah aku pun diterima sebagai bagian dari DPM FEMA (Dewan Perwakilan
Mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia).
Perkenalkan inilah dia Dewan Ekosentris,
DPM FEMA periode 2015/2016. Disini aku mendapat amanah sebagai bagian dari BPH
(Badan Pengurus Harian), yaitu sebagai bendahara II. Jujur aku tidak pernah
kepikiran bisa tergabung sebagai BPH. Aku tahu, di BPH itu tidak mudah. Selain
menjalankan kewajibannya, BPH itu memiliki tugas lain, merangkul dan menjaga
seluruh pengurus. J
Mendekati masa-masa UAS dan setelah
berakhirnya UAS Dewan Ekosentris mulai diuji, terutama BPH. Berkutat dengan
yang namanya memeriksa RKAT dari seluruh organisasi FEMA. Dan itu dilakukan berulang-ulang
setelah mengalami revisi dan revisi lagi. Kemudian persiapan untuk muker
(musyawarah kerja) internal FEMA yang harus dilakukan di tengah-tengah masa UAS
karena muker dilaksanakan setelah tepat setelah UAS. Cukup berat menurutku.
Dengan sumberdaya DPM yang hanya 18 orang, koordinasi yang belum terbentuk
dengan sempurna, dan prinsip orang yang berbeda. Aku pribadi, aku memegang
prinsip dari dulu hingga sekarang, bahwa UAS adalah saat dimana aku bisa
mengejar ketertinggalan nilaiku, jadi aku akan fokus dan cenderung tidak mau
diganggu. Tapi akhirnya, mulai saat inilah prinsipku pun luntur seketika. Mau
tak mau fokusku harus terbelah.
Muker internal selesai, masa liburan
tiba, namun muker IPB menunggu. Muker IPB memang dilaksanakan pada saat
liburan, seminggu setelah berlangsungnya muker internal, dan hanya membutuhkan
BPH. Seminggu ini tidak tenang. Aku dan temanku sebagai sekretaris II ditinggal
pulang oleh sekretaris I dan bendahara I. Dan aku dan temanku berdua berusaha
keras belajar dari awal dalam menyelesaikan urusan proposal dan lpj muker
internal. Koordinasi dengan kakak-kakak harus berlangsung jarak jauh. Belum
lagi urusan RKAT yang akhirnya dipegang penuh oleh kakak ketua DPM sendiri
(Maaf ka tidak bisa banyak bantu T_T). Memang kebetulan yang bagus, aku dan
temanku sebagai anak jabodetabek. Tapi sayangnya, ternyata kita tidak bisa
bolak-balik Bogor-rumah, karena urusan ini tidak semudah yang dilihat untuk
diselesaikan.
Aku pribadi merasa ingin menangis tapi
kupendam. Kenapa? Karena aku tidak bisa segera melakukan tanggung jawab di
rumah. Tanggung jawab sebagai anak bungsu, sebagai anak perempuan satu-satunya,
sebagai anak yang kuliah tidak jauh dari tempat tinggalnya. Apa yang kita mau
memang tidak selamanya sesuai dengan kenyataan. Mungkin kedepannya aku harus benar-benar siap dengan segala sesuatu
yang datang mendadak dan harus segera untuk diselesaikan. Aku harus
memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Aku harus tegas. Aku tidak boleh
malas. Aku harus lebih inisiatif. Aku tidak boleh menjadi seorang yang pelupa. Aku
tidak boleh terjebak dengan mengikuti apapun yang dilakukan teman, walaupun itu
teman dekat.
Karena
amanah datang secara tiba-tiba...
Karena amanah datang di kala kita tidak
siap...
Aku berharap 18 orang DPM bisa benar-benar
menjadi keluarga. Keluarga yang nyaman. Keluarga yang terbuka. Keluarga yang
benar-benar mengerti kepribadian anggotanya satu sama lain. Keluarga yang
anggotanya saling menghargai dan mendukung satu sama lain. Keluarga yang dapat
membagi kesenangan dan kesusahannya secara merata.
Kalau kalian anggap tidak ada yang
penting pada suatu waktu, sehingga kalian tidak akan datang, justru itulah
waktu yang sangat penting untuk kita berkumpul.
Karena setiap dari kalian itu begitu
berharga.
Dewan Ekosentris tak akan berjalan tanpa
kalian ber-18.



