Senin, 25 Januari 2016

IPB # 2

         Amanah tidak jatuh pada pundak yang salah.
    Allah tidak selalu memberikan apa yang kita mau, tapi Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan. J

        Aku seorang mahasiswi IPB yang baru saja melewati 1 tahun kehidupan disana yang menurut orang merupakan masa-masa paling indah untuk dijalani, TPB, Tingkat Persiapan Bersama. Alhamdulillah hasil dalam 1 tahun ini, aku bisa mendapat nilai IPK yang hampir mendekati sempurna, dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang setidaknya tidak membuatku sebagai mahasiswi kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang), tapi tidak juga dibilang sebagai aktivis seperti ketika SMA dulu. Selama 1 tahun ini, aku juga merasa terlindungi oleh kehidupan asrama yang pokoknya sangat menjagaku.
        Masuklah aku pada kehidupan kuliah yang sesungguhnya. Aku mulai beradaptasi kembali, beradaptasi tinggal sendiri di kosan, beradaptasi menjalani kehidupan sebagai mahasiswi Fakultas Ekologi Manusia, dan beradaptasi menjalani kehidupan sebagai mahasiswi Departemen Gizi Masyarakat.
        Semester 3 pun kulalui. Betapa aku mengalami kekagetan. Sejak masuk departemen aku memberanikan diri untuk mencoba bergabung dengan kegiatan-kegiatan baik di tingkat departemen dan fakultas. Aku mengikuti kepanitiaan di departemen yaitu Food Fair dan Farewell Party HIMAGIZI. Lalu aku bergabung dalam kepanitiaan PEMIRA FEMA. Ternyata benar, kehidupan di departemen tak seindah TPB. Aku mulai menyesuaikan diri dengan berbagai tugas laporan, kuliah, dan praktikum yang menantang.
        Aku mengalami masalah. Aku merasa memiliki pola belajar yang salah. Di kosan, diriku lebih rentan, tak seperti ketika di asrama. Bukan karena di kosan aku jadi seperti bebas melakukan apa saja. Tapi yang menjadi masalah adalah kesendirian dan kesepian yang membuatku rentan menjadi malas dan galau. Semangat belajarku menjadi naik turun. Aku jadi lebih sering menunda. Sungguh aku rindu kehidupan sekamar berempat ketika di asrama. Sungguh aku rindu kehidupanku ketika di rumah, dimana aku bisa mendengar suara-suara berisik dari orang-orang serumah. Suasana yang ramai dan hidup merupakan motivasiku untuk bisa bertahan dan menyelesaikan segala hal. Pada akhirnya apabila aku sudah merasakan berbagai ketidakberesan, aku cenderung menenangkan diri dengan tidur. Hal itu sebenarnya sangat tidak baik, karena itu berarti aku menunda segala hal yang membuatku kelimpungan di akhir.
        Aku tahu aku salah. Aku tahu aku sedikit melupakan tujuanku kuliah. Aku tahu aku sering mengesampingkan cita-citaku di masa depan. Hingga akhirnya aku berusaha keras untuk berubah. Selalu memikirkan orangtua, dan memikirkan kehidupan masa depan yang kucita-citakan. Tapi tetap semuanya telah berjalan. Seperti yang sudah kubilang. Ketika aku menunda, maka aku akan kelimpungan di akhir. Bersenang-senang di awal, bersakit-sakit di akhir. Seperti itulah gambaran kehidupanku di semester 3.
        PEMIRA FEMA. Dari situlah semua berawal. Kepanitiaan ini berhasil mengasah kembali skillku dalam berorganisasi. Aku merasa nyaman disini. Aku merasa nyaman dengan teman-teman dan kakak-kakak yang bergabung dalam kepanitiaan ini. Di PEMIRA ini aku benar-benar merasakan yang namanya ditunjuk dan dipercayakan secara langsung untuk melakukan sesuatu, sesuatu yang jarang aku lakukan sehingga membuatku deg-degan, dan sesuatu yang benar-benar menguji keikhlasanku dan seberapa siapkah aku untuk berkorban.
        Mungkin aku mau sedikit memperkenalkan sebuah mata kuliahku di semester ini, yaitu fisman (fisiologi manusia). Mata kuliah yang menarik, tapi praktikumnya benar-benar menguji mental seseorang haha. Mau atau tidak kamu harus bertahan untuk mempelajari aplikasi IP WEB yang mengupas lengkap mata kuliah ini dan berisi FULL BAHASA INGGRIS. Mempelajari IP WEB ini menurutku membutuhkan waktu khusus karena tidak mudah. Bahkan aku sendiri, dengan kelemahan yang kumiliki, aku sadar diri, dan aku harus menulis seluruh isi IP WEB itu dulu sebelum kupelajari. Nah again. Intinya aku baru sadar di pertengahan jalan. Aku tidak benar-benar belajar IP WEB ini dengan sepenuh hati dari awal. -,-
        Hari H PEMIRA. Aku dan seorang kakak yang berbeda 2 tahun (yang dia ternyata kakak asprak fisman ._.) ditunjuk  sebagai perwakilan dari panitia PEMIRA FEMA untuk melakukan perhitungan suara di KM  (tingkat IPB). Guess what! Perhitungan suara itu dilakukan diatas jam 9 malam, kemungkinan berakhir lewat tengah malam, dan besoknya adalah ujian presentasi IP WEB fisman 3 atau 4 bab! Pelajaran yang cukup kutakuti ini benar-benar menguji mentalku banget. Di saat anak-anak gizi lainnya belajar, aku melakukan hal lain. Aku khawatir karena nilai-nilai praktikum fismanku tidak terlalu bagus, dan aku gak mau besok aku mendapatkan kembali hasil yang tidak memuaskan. Mana aku tidak terlalu mengerti bagian-bagian bab awal T_T.
        Bagaimanapun aku tak bisa menyia-nyiakan amanah yang datang padaku. Yasudah aku jalani saja dengan tenang. Dan benar, sekitar jam setengah 1 an dini hari aku baru balik ke kosan. Apakah aku langsung belajar? TIDAK! Aku capek dan aku tidur! Alhamdulillah aku terbangun jam 3an. :”””). Hingga akhirnya ujian presentasi dilaksanakan. Alhamdulillahnya lancar. Aku dapat bagian yang harus dipresentasikan yaitu bagian yang cukup kukuasai. Sungguh aku bersyukur banget.
        Yah. PEMIRA inilah yang kemudian mengarahkanku pada jalanku yang selanjutnya. Aku mendaftar magang BEM, namun ditolak. Aku pun dilanda kebingungan untuk memilih daftar DPM atau HIMAGIZI. Jujur aku tidak pernah kepikiran untuk bergabung dengan DPM yang mirip dengan MPK ketika SMA dulu. Aku merasa cukup 2 tahun sebagai MPK, dan tidak mau melanjutkan di DPM. Namun, kembali aku dipercayakan oleh seseorang yang kukenal baik dan hebat di kepanitiaan PEMIRA untuk bergabung di DPM. Bimbang. Aku menimbang-nimbang dengan sebaik-baiknya. Entah kenapa pula, aku merasa ditunjukkan jalan oleh Allah, melalui beberapa teman TPB yang berhubungan dengan DPM tiba-tiba bertemu secara kebetulan denganku.
        Bismillah, akhirnya kutetapkan pilihanku. Aku daftar DPM. Itu artinya aku siap untuk menghapus keinginanku untuk bergabung dengan BEM, HIMAGIZI, dan berbagai kepanitiaan yang dibawahi oleh BEM dan HIMAGIZI. Serangkaian persyaratan kupenuhi. Wawancara kujalani. Alhamdulillah aku pun diterima sebagai bagian dari DPM FEMA (Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia).
        Perkenalkan inilah dia Dewan Ekosentris, DPM FEMA periode 2015/2016. Disini aku mendapat amanah sebagai bagian dari BPH (Badan Pengurus Harian), yaitu sebagai bendahara II. Jujur aku tidak pernah kepikiran bisa tergabung sebagai BPH. Aku tahu, di BPH itu tidak mudah. Selain menjalankan kewajibannya, BPH itu memiliki tugas lain, merangkul dan menjaga seluruh pengurus. J
        Mendekati masa-masa UAS dan setelah berakhirnya UAS Dewan Ekosentris mulai diuji, terutama BPH. Berkutat dengan yang namanya memeriksa RKAT dari seluruh organisasi FEMA. Dan itu dilakukan berulang-ulang setelah mengalami revisi dan revisi lagi. Kemudian persiapan untuk muker (musyawarah kerja) internal FEMA yang harus dilakukan di tengah-tengah masa UAS karena muker dilaksanakan setelah tepat setelah UAS. Cukup berat menurutku. Dengan sumberdaya DPM yang hanya 18 orang, koordinasi yang belum terbentuk dengan sempurna, dan prinsip orang yang berbeda. Aku pribadi, aku memegang prinsip dari dulu hingga sekarang, bahwa UAS adalah saat dimana aku bisa mengejar ketertinggalan nilaiku, jadi aku akan fokus dan cenderung tidak mau diganggu. Tapi akhirnya, mulai saat inilah prinsipku pun luntur seketika. Mau tak mau fokusku harus terbelah.
        Muker internal selesai, masa liburan tiba, namun muker IPB menunggu. Muker IPB memang dilaksanakan pada saat liburan, seminggu setelah berlangsungnya muker internal, dan hanya membutuhkan BPH. Seminggu ini tidak tenang. Aku dan temanku sebagai sekretaris II ditinggal pulang oleh sekretaris I dan bendahara I. Dan aku dan temanku berdua berusaha keras belajar dari awal dalam menyelesaikan urusan proposal dan lpj muker internal. Koordinasi dengan kakak-kakak harus berlangsung jarak jauh. Belum lagi urusan RKAT yang akhirnya dipegang penuh oleh kakak ketua DPM sendiri (Maaf ka tidak bisa banyak bantu T_T). Memang kebetulan yang bagus, aku dan temanku sebagai anak jabodetabek. Tapi sayangnya, ternyata kita tidak bisa bolak-balik Bogor-rumah, karena urusan ini tidak semudah yang dilihat untuk diselesaikan.
        Aku pribadi merasa ingin menangis tapi kupendam. Kenapa? Karena aku tidak bisa segera melakukan tanggung jawab di rumah. Tanggung jawab sebagai anak bungsu, sebagai anak perempuan satu-satunya, sebagai anak yang kuliah tidak jauh dari tempat tinggalnya. Apa yang kita mau memang tidak selamanya sesuai dengan kenyataan. Mungkin kedepannya aku harus benar-benar siap dengan segala sesuatu yang datang mendadak dan harus segera untuk diselesaikan. Aku harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Aku harus tegas. Aku tidak boleh malas. Aku harus lebih inisiatif. Aku tidak boleh menjadi seorang yang pelupa. Aku tidak boleh terjebak dengan mengikuti apapun yang dilakukan teman, walaupun itu teman dekat.

        Karena amanah datang secara tiba-tiba...
        Karena amanah datang di kala kita tidak siap...

        Aku berharap 18 orang DPM bisa benar-benar menjadi keluarga. Keluarga yang nyaman. Keluarga yang terbuka. Keluarga yang benar-benar mengerti kepribadian anggotanya satu sama lain. Keluarga yang anggotanya saling menghargai dan mendukung satu sama lain. Keluarga yang dapat membagi kesenangan dan kesusahannya secara merata.
       
        Kalau kalian anggap tidak ada yang penting pada suatu waktu, sehingga kalian tidak akan datang, justru itulah waktu yang sangat penting untuk kita berkumpul.

        Karena setiap dari kalian itu begitu berharga.

        Dewan Ekosentris tak akan berjalan tanpa kalian ber-18.




        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar